Wednesday, May 27, 2015

BAGAIMANA MENGHADAPI SAMPAI KELAS 6 SD MENDEKATI UJIAN ANAK BELUM BISA MEMBACA ?


Oleh : @Kalim Nuryati


Barangkali temuan ini ada di seputar sekolah kamu.Dari pengalamanku mengajar dulu sampai sekarang terjadi sampai berulang -ulang.Di sela-sela curhat sesama guru SD mereka sering berkata terus ada dan sama itu tidak bisa disembunyikan.Muncul terus di tiap warna kelulusan atau kenaikan kelas.Padahal teman-teman sekelasnya rata-rata yang lain maju dan pintar-pintar. Saya menganggap ini tidak kesalahan guru SD.Apalagi saya mengajar sampai menjadi kepala sekolah di pedesaan yang bisa dikatakan tingkat kesadaran menghargai pendidikan dikatakan dulu kurang dan sekarang cukup meningkat sesuai kondisi sekarang ini memasuki jaman globalisasi era informasi dan komunikasi mudah.Di tambah sekarang ini ada Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat atau lebih disingkat dengan PKBM adalah suatu wadah berbagai kegiatan pembelajaran masyarakat diarahkan pada pemberdayaan potensi untuk menggerakkan pembangunan di bidang sosial, ekonomi, dan budaya.PKBM adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak dalam bidang pendidikan. PKBM ini masih dibawah pengawasan dan bimbingan Dinas Pendidikan Nasional. PKBM ini bisa berupa tingkat dusun, desa ataupun kecamatan.Pendidikan Kesetaraan : Paket A, Paket B dan Paket C

Problem pendidikan kita masih menyisakan SEBAGIAN KECIL PR untuk seluruh para guru SD/MI dan SMP/MTS agar tidak saling menuduh dalam penuntasan Wajib Belajar Sembilan Tahun gara-gara sampai kelas 6 bahkan lulus SD sampai awal-awal masuk sekolah lanjutan SMP/MTS 'MASIH BELUM BISA MEMBACA'.Sebuah pengakuan dan keluhan seorang guru SMP/MTS menuturkan betapa memprihatinkan, siswa di sekolahku baru diketahui tidak dapat membaca di kelas 2 SMP.Apakah memang syarat dapat membaca tidak lagi menjadi satu-satunya penentu siswa masuk ke jenjang sekolah menengah ?

Hampir tiap tahun selalu ditemui siswa yang tidak bisa membaca sejak masuk sampai ke kelas 8 SMP/MTS. Kasihan juga, apabila waktu masuk ke sekolah SMP / MTS siswa yang tidak bisa membaca harus gagal melanjutkan sekolahnya.Tetapi setelah masuk, beberapa kali harus men-DO siswa. Entahlah nasib mereka yang tidak naik kelas, melanjutkan ke sekolah lain atau harus putus sekolah.Sementara WAJAR Sembilan Tahun harus diberikan oleh sekolah di Indonesia.Pertanyaan berikutnya adalah : 'Apakah wajar nilai ujian SD diberikan kepada mereka yang tidak bisa membaca selama di SD ? Setiap manusia membawa talenta / bakat dan minat masing-masing. Kemudian menjadi masalah ketika di hadapkan dengan dunia sekolah yang mengharuskan siswa dapat membaca menulis dengan lancar sebagai pondasi /dasar meluaskan ilmu atau pelajaran lain yang mengharuskan untuk dikuasai.

Apakah siswa (anak) yang tidak bisa membaca tetap diperbolehkan belajar ? Siswa tersebut setiap ujian tertulis bernilai buruk atau kuramg, nilainya selalu di bawah 50 dalam hariannya.Ketika kegiatan pelajaran - pelajaran yang berhubungan praktik, dinilai baik. Jika masa depannya dihambat lantaran tidak bisa membaca, sangat disayangkan. Tetapi kemampuan membaca adalah pertanda siswa mampu menjawab pertanyaan tertulis. Jika tidak bisa membaca,namun tetap naik, kemudian lulus dengan ijasahnya asli tapi nilainya bisa dikatakan palsu atau tidak sesuai. Saya menyoroti hal ini karena banyak siswa yang di kelas tidak pernah ada catatan. Ternyata dia tidak bisa membaca. Di kelas dihabiskannya untuk mengobrol. Jika diminta menulis, pura-pura lupa membawa buku catatan dan alasan lainnya. Beberapa kali sekolah kami mengalami, setelah dinyatakan diterima berdasarkan seleksi nilai UASBN/UN/USM dan kemudian belajar di kelas tujuh, baru ketahuan ternyata si anak sama sekali belum bisa membaca. Guru bahasa berusaha keras membimbingnya, namun karena tidak ada dukungan dari keluarganya terpaksa tahun berikutnya tetap tinggal kelas.

Kejadian ini terjadi sebab pihak Sekolah Dasar meluluskan si siswa setelah berdialog dengan orang tua siswa dan menyatakan bahwa si anak tidak akan melanjutkan sekolah. Namun, setelah dinyatakan lulus ternyata si anak (mungkin juga keluarganya) menghendaki melanjutkan sekolah, karena kebetulan tahun itu pendaftarnya hanya sesuai daya tampung semua calon siswa diterima lumayan hanya sekedar fihak sekolah dapat tambahan dana BOS,termasuk anak yang belum bisa membaca. Nalar sederhana, jika belum bisa membaca, bagaimana anak bisa mengerjakan soal-soal semua mata pelajaran, apalagi bahasa inggris dan matematika.Apalagi dengan adanya nilai KKM ( Kriteria Kelulusan Minimal ) yang tidak bisa membaca pun bisa naik kelas, asalkan rajin masuk sekolah.Kesadaran orang tua tentang pendidikan hanya sebatas menyekolahkan putra/putrinya. Terbukti tiap tahun ada siswa yang belum bisa membaca bisa masuk ke SMP. Perlu dikaji ulang syarat penerimaan ke jenjang SMP/MTS. Perlu ada SERTIFIKAT BISA MEMBACA yang dikeluarkan oleh SD untuk boleh melanjutkan ke SMP. Atau jika sekolah kesulitan dengan anak berkebutuhan khusus, perlu ada SURAT KETERANGAN BERKEBUTUHAN KHUSUS, bahwa anak tersebut harus diterima secara INKLUSI.

Tiap tahun sekolah kami juga mendapati siswa yang memerlukan penanganan secara inklusi. Tapi sekolah kami tidak dipersiapkan untuk inklusi. Anak inklusi ada yang bisa membaca, tetapi setiap menjawab pertanyaan, jawabannya ngawur, bahkan pertanyaan ditulisnya sebagai jawaban. Jadi sekolah umum yang dimasuki anak tidak bisa membaca dan anak inklusi membuat sekolah memberikan nilai yang bagus. Anak yang tidak bisa membaca dan anak berkebutuhan khusus saja bisa naik kelas dan lulus, mengapa anak yang sudah bisa membaca dan tidak inklusi tidak bisa lulus ? Itulah akhirnya semua siswa di SD lulus dengan nilai wah atau cukup tinggi, agar diterima di SMP. Saya menjadi teringat,sewaktu di SD, hampir tiap hari siswa satu persatu maju untuk giliran membaca di depan kelas, jika belum benar (belum bisa) tetap berdiri di depan kelas berderet di dekat papan tulis. Mereka baru bisa duduk kembali jika datang giliran seorang siswa yang sudah bisa membaca, kemudian mereka semua menirukan bersama-sama dalam hal ini siswa yang sudah lancar membaca biasanya diberi giliran belakangan oleh guru.

Kurikulum semakin maju, tetapi melupakan masa lalu yang sudah baik hendaknya apa yang masih sesuai dengan sekarang masih berlanjut. Barangkali perlu dikembalikan lagi SD semasa dulu berjaya. Sekarang mana ada siswa yang tinggal kelas. Karena alasan belum bisa membaca sampai kelas 3 SD sampai kelas 5 bahkan sampai kelas 6 SD belum bisa membaca tetap naik kelas. Atau sarannya kepada guru-guru SD : Lupakanlah materi pelajaran yang bertumpuk. Intensifkan pengajaran membaca secara khusus, baik bagi yang baru bisa, apalagi bagi yang belum bisa sama sekali. Sebab apalah artinya mengajar, jika masih ada siswa yang belum bisa membaca harus belajar mata pelajaran lain. Cukup belajar 2 mata pelajaran saja Membaca dan Berhitung. Segala gambaran diatas bisa bermasalah di kemudian hari jika keadaan ini berlanjut terus menerus. Masa Golden Age jika tidak ditangani saat di SD, dampaknya akan terus sampai ke SMP. Tidak sampai di SMP mungkin anak tersebut malu dan droup out putus sekolah karena tidak bisa mengejar pelajaran akibat terbawa terus ketidakmampuannya dalam membaca. Sekolah sekarang ini dituju untuk sekadar mendapat ijasah. Agar dibilang sebagai manusia terdidik, meskipun belum tentu dapat membaca sampai tuanya.

Secara teoritis banyak faktor yang menjadi penyebab anak sekolah dasar sampai lulus tidak bisa membaca.Tingkatan membaca biasanya dikatakan kurang bisa membaca atau mengeja kurang lancar termasuk menjurus dikatakan belum bisa membaca dan pastinya belum bisa menulis dengan cukup baik.
Kenapa ada anak yg sudah lulus SD masih tidak bisa membaca ? Apakah faktor anak itu sendiri ? (Disleksia, retarded, dll) atau faktor sekolah yang terlalu abaikan pada kemampuan dasar murid-muridnya ? inilah yang sering dituduhkan oleh guru di jenjang tingkat atasnya.Faktor kemampuan dan kemauan dari dalam anak itu sendiri masih merupakan hambatan si anak tidak bisa membaca dan menulis.Pernah saya menjumpai anak yang sejak kecil sampai sekolah SD tidak ditunggui orang tuanya yang berarti nol besar waktu belajar anak di rumah karena ikur neneknya.Bahkan ada yang tak terurus sebagai akibat ditinggal kerja orang tuanya ke Luar negeri menjadi TKW dan seterusnya.Guru merupakan satu-satunya sumber belajar andalan.