Tuesday, May 12, 2015

Hindari Ujian Nasional Seolah Sakral Menakutkan !

official lomba fls2n di smp n 06 pati
Oleh : Kalim,M.Pd. 
Kepala Sekolah SD Negeri Mojo 03 Kecamatan Cluwak Kabupaten Pati   
          
             Banyak sekali hal-hal yang dilakukan dalam menghadapi UN ( Ujian Nasional ) yang sekarang ini tahun 2015 dinamakan USM ( Ujian Sekolah Madrasah ).Mereka orang tua wali sampai fihak warga sekolah mengkeramatkan detik-detik ini demi suksesnya anak mereka lulus dengan prestasi terbaik  memuaskan.Banyak cara dilakukan sebelum-sebelumnya dengan menempuh kebersihan hati dan persiapan matang mulai dari les tambahan sampai try out yang menjurus ke kehati-hatian.Dari dinas Pendidikan sendiri biasanya memberi pembinaan kepada pengawas ruang agar menjalankan tugasnya dengan baik sesuai aturan petunjuk pelaksanaannya.Di sisi lain trend meniru sekolah lain muncul begitu menjamur tentang bagaimana menghadapi UN/USM .Ini tidak mengherankan seakan UN/USM adalah satu-satunya titik akumulasi siswa dalam meraih nilai.
              Bagiku UN/USM adalah hal yang biasa karena itu merupakan terminologi perjalanan akhir penilaian menuju awal proses prestasi dalam akademik ke yang lebih tinggi.Secara alamiah sebenarnya keberhasilan siswa sudah ditunjukkan oleh prestasi sebelumnya dilur UN/USM.Namun kekhawatiran ini seakan dianggap berlebihan dengan mengadakan acara ritual karena mereka percaya bahwa dengan hati yang bersih fikiran dan mental mereka menjadi mantap untuk menghadapinya.
              Membaca ataupun melihat gaung ritual menghadapi ujian bagiku membuang -buang waktu saja.Sebenarnya siswa sudah tahu sendiri kemampuan masing-masing individu dalam menghadapi persoalan ini.Segala nasehat tips untuk menuju sukses Ujian ini terlalu dibesar-besarkan,ini menjadi lahan empuk bagi mereka untuk mengemas keadaan ini dengan membuat bisnis baru muncul dalam bidang akademik dengan berbagai alasan,iming-iming,resep,yang kadang berlebihan.Mereka membidik para calon peserta ujian yang jumlahnya jutaan dan tiap tahun meningkat.
                 Ramainya pasaran buku,kursus,les tambahan seakan tidak bisa terbendung menyambut dettik-detik ujian ini.Menurutku ini sebagai bentuk refleksi dari pada kurangnya daya serap pelajaran yang masuk kepada siswa.Ini menyebabkan ketidakpercayaan siswa kepada jadwal reguler yang merupakan pokok isi kurikulum sebenarnya.Seakan mereka kurang matang belum cukup menerima pelajaran yang tertuang dalam setiap menu kompetensi capaian sekolah.Bahkan kursus dianggap sekolah baru yang menjanjikan.
                 Aneh sekali bila saya mendengar ritual yang muncul akhir-akhir ini yang saya rasa sah-sah saja dengan mengadakan acara ritual keagamaan.Siswa disuruh sholat tahajud,mencium telapak kaki ibunya,sungkem minta maaf kepada orang tuanya,manakib,semuanya berintikan doa dan seterusnya boleh-boleh saja selama bisa membangkitkan motivasi belajar siswa.Bagi saya biarlah anak-anak menemukan caranya sendidri yang dianggap cocok dengan gaya belajar mereka masing-masing sejujur-jujurnya.Bahwa kegagalan ujian bukanlah satu jalan seseorang tidak sukses.Perjalanan masih panjang banyak ujian-ujian lain dalam proses belajar yang lebih penting untuk diperbaiki ditingkatkan dan diyakini bahwa itu sebagai pijakan melangkah dalam menuju kesuksesan.Berilah anak moral karakter jujur kepada semua kegiatan akademik maupun proses belajar di rumah dan dimana saja.Semua adalah ujian bahwasanya ujian ada dimana-mana hanya saja kta tak sadar sudah dilakoninya.Jadikan Ujian hal kegembiraan tidak sakral menakutkan yang bisa menyebabkan beban mental untuk menghadapinya.