Wednesday, May 27, 2015

Jaga Situs dan Artefak Bersejarah sebagai Wujud Cinta Tanah Air

Wed, 05/27/2015 - 15:49
Bandung, Kemendikbud --- Terbentuknya kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan sebuah perjuangan para leluhur dan pendahulu bangsa. Mendirikan negara tidaklah mudah. Terdapat proses panjang yang meminta pengorbanan yang tidak sedikit. Perjuangan leluhur bangsa ini perlu dihargai, dihormati dan dilestarikan nilai-nilai kesejarahannya.

“Karena itu maka situs-situs bersejarah baik yang diceritakan, yang dituliskan, bahkan yang ditinggalkan melalui artefak harus kita jaga sebagai wujud cinta  kita kepada tanah air,” ujar Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kacung Marijan saat membuka kegiatan Lawatan Sejarah Nasional (Lasenas) XIII di Gedung Merdeka, Bandung, Minggu (24/5).
Menurutnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya. Oleh karena itu, penting bagi seseorang memahami sejarah bangsanya. Kegiatan Lasenas yang akan berlangsung hingga Kamis (28/5) ini mengajak generasi muda bangsa mengenal sejarah Indonesia. “Pesan saya, abadikan seluruh kegiatan Lasenas ini di media sosial agar mengajak teman-teman lainnya mengenal sejarah Indonesia,” tambah Kacung.

Sementara itu, Direktur Sejarah dan Nilai Budaya, Endjat Djaenuderadjat mengatakan, sejarah merupakan pengingat, pengikat dan penyemangat. “Pengingat” maksudnya mengingat kembali apa yang telah dicapai para leluhur dan pendahulu bangsa ini. “Pengikat” artinya sejarah kemerdekaan tersebut mampu menyatukan berbagai suku bangsa menjadi suku bangsa Indonesia. “Penyemangat” berarti capaianmasa lalu yang dilakukan oleh pendiri bangsa ini perlu ditindaklanjuti sebagai lompatan semangat untuk jauh ke depan.
Kegiatan Lasenas tahun ini mengangkat tema “Membangun memori kolektif generasi muda untuk perekat persatuan bangsa”. Sekitar 200 peserta di antaranya terdiri atas siswa-siswa dan guru sejarah tingkat sekolah menengah. Lasenas XIII berlangsung di empat kabupaten/kota di Jawa Barat, yaitu Kota Bandung, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Kuningan, dan Kota Cirebon. Lokasi-lokasi sejarah yang dituju merupakan bagian dari simpul-simpul perekat yang berorientasi pada nilai-nilai perjuangan dan persatuan untuk memperkokoh integrasi bangsa. (Mangara/Dwi Retnawati)