Tuesday, May 26, 2015

PERAN KEAMANAN SEKOLAH DALAM MENJAGA ASET SEKOLAH




Oleh @Kalim Nuryati

Ketika saya mendengar ada Sekolah yang kecurian saya menjadi prihatin sebab dari dulu sampai sekarang rumah penjaga tidak difungsikan dengan baik.Seiring meningkatnya aset yang dimiliki oleh sekolah sepertinya kurang penjagaan karena sekarang rumah penjaga yang dibangun dulu tidak ditempati.Pembelian alat elektronik dan peraga Pembelajaran meningkat seperti komputer,LCD,proyektor menjadi sasaran empuk pencuri.Ketika era Suharto penjaga sekolah ditempati ini dikandung maksud untuk menjaga sekolahnya.Pengangkatan Penjaga sekolah sangat minim bahkan tidak ada sama sekali hampir merata se Indonesia.Di bagian tertentu beralih fungsi menjadi Kepala Desa bahkan diperdayakan menjadi pegawai non kependidikan oleh Pemda.Ketika guru dan warga sekolah pulang peran penjaga sekolah adalah besar.Namun sayang penghuninya supaya krasan disitu hak nya semakin menurun yang menurun pula tingkat keamanannya.
Berdasarkan pengamatan saya di lapangan,ketika berkeliling ke rumah teman,berkunjung hajatan sesama guru ,mengikut lomba,bahkan perjalanan dinas.Rumah dinas kepala, guru, dan penjaga SD banyak yang rusak berat,terbengkalai bahkan kosong. Semua rumah itu menggunakan kerangka kayu dan dinding tembok. Usianya sudah cukup tua, lantaran pembangunannya satu paket dengan proyek SD instruksi presiden (inpres) waktu itu.Kerangka bangunan dari kayu, banyak yang keropos, dan dinding temboknya juga banyak yang ambrol.
Tidak sedikit bangunan itu harus dirobohkan karena kondisinya sangat membahayakan atau sengaja dirobohkan oleh pihak sekolah yang bersangkutan karena bagian bangunannya banyak yang lapuk.Usia bangunan sudah cukup tua. Rumah-rumah dinas itu dibangun sekitar 1970-1980an, sehingga kalau dihitung usianya sudah mencapai 40-45 tahun.
Penyebab lainnya adalah tidak terawatnya rumah dinas tersebut. Masalahnya, hampir 99 persen rumah dinas untuk kepala, guru, dan penjaga SD tidak ditempati. Sebab, mereka yang punya hak menempati sudah punya rumah sendiri.
Meski kondisinya seperti itu, pihak Dinas Pendidikan tetap membiarkan saja. Artinya, tidak ada skala prioritas untuk memperbaiki rumah-rumah dinas tersebut sampai sekarang.
Bahkan ada perumahan penjaga,guru ,kepala sekolah yang letaknya jauh dari sekolah sekarang dihapus dari aset dan direhab sendiri oleh guru ditempati sampai pensiun.
Kalau diperbaiki, ya percuma saja. Karena hampir seluruh kepala, guru, dan penjaga SD sudah punya rumah sendiri.
Sekarang, hanya tinggal segelintir rumah dinas kepala, guru, dan penjaga SD yang kondisinya masih bagus. Tetapi oleh pihak sekolah yang bersangkutan, rumah dinas tersebut dialihkan fungsinya menjadi perpustakaan, kantor, kantin,gudang.
Itupun ada beberapa hal seperti banjir,kebakaran,sengketa,putus asa tidak mendapat rehabilitasi,menumpang milik perseorangan masih ada SD yang bangkrut lantaran tidak punya murid terdengar sampai saat ini.
Semoga ini bisa didengar oleh yang berwenang sebagai masikan dalam perkembangan dunia pendididikan yang bermartabat.