Saturday, May 16, 2015

SULITNYA MENGISI GURU NEGERI DI SETIAP ROMBEL/KELAS SEBAGAI STANDAR PELAYANAN MINIMAL DI SEKOLAH DASAR NEGERI


Oleh : Kalim,M.Pd.
Kepala SD Negeri Mojo 03 Cluwak Pati

Melihat catatan di lapangan skenario 1 kepala sekolah negeri ,6 guru kelas negeri ditambah 1 guru mata pelajaran olah raga negeri,1atau lebih guru mata pelajaran agama sesuai kebutuhan sekolah ditambah 3 mata pelajaran muatan lokal sekolah ,kabupaten,propinsi negeri adalah sebuah keniscayaan.Hampir tiap lembaga sekolah saya jumpai masih ada kekurangan.Itu saja ditinjau dari segi tenaga pengajar.Hampir rata-rata demikian ditambah tenaga operator,pustakawan,TU,pemjaga sekolah negeri malah menambah jauh sekali idealnya sebuah sekolah negeri.

Saya memang sudah bersyukur diangkat mengabdi sebagai guru negeri untuk memberikan pendapat kepada semua kalangan pemangku pendidikan.Namun dalam perkembangannya KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) menuntut demikian.Lain dulu sebelum KTSP yang berdasar guru kelas.Menurut saya prakteknya sekarang ini guru kelaspun merangkap sebagai guru mata pelajaran sebagai tugas tambahan dan rangkap tugas lain yang similar dengan tugas pokoknya.Perpaduan itu secara tidak langsung menambah personal guru negri yang notabene sekarang ini menjadi pilihan favorit di masyarakat.Tetapi dalam mengejar keidealan itu semakin menjauh entah karena anggaran yang membuat peta ini tidak normal.Disisi lain kecemburuan antara guru PNS dan Non Pns semakin tajam.SPM ( Standar Pelayanan Minimal) harus dipertegas harus didisi setidaknya minimal 6 guru negeri yang sampai saat ini masih kekurangan.Seperti SD yang saya pimpin hanya 2 guru kelas negeri yang ada ditambah kepala sekolah masih mengajar wajib 6 jam pelajaran sebagai tugas tambahan.Ketidaknormalan itu berlangsung sepanjang tahun sejak sekolah berdiri sampai saat ini.Apalagi dalam menghadapi Kurikulum 2013 yang kita hadapi urusan mendasar pelayanan minimal pendidikan didaerah akan menghadapi kesulitan dalam inplementasinya.Untuk tidak muluk-muluk saya secara sederhana memberi gambaran realita sekolah di area kecamatan saya sebagai sampel sebagai berikut : (peta1-4).

Membaca mendengar kekurangan guru SD di luar Jawa hatiku sangat sedih manakala mereka terlantar padahal jumlah muridnya banyak sekali.Saya pikir ini pekerjaan Dinas Pendidikan tapi kalau saya tengok ke belakang justru di Jawa sendiri ada beberapa SD di masing-masing Kabupaten dan Kecamatan justru berbalik ya kekurangan guru ya kekurangan murid.Menurutku pemerataan guru utamanya di Kabupaten ataupun Kecamatan juga ada wilayah yang sedikit terpinggirkan.Pemerintah harus jeli sekali resiko wilayah yang begitu luas memang harus ditata srtruktur pemetaan perbandingan murid dan guru yang ideal secara umum nasional adalah tidak gampang.(peta 1)

Di wilayah dekat se Kecamatan saya menjumpai satu desa ada 2 SD negeri yang mepet berdekatan.Kalau menurut saya digabung adalah solusi terbaik menghemat anggaran efektif sekali jumlah guru kelas 1 sampai kelas 6 terisi dengan jumlah guru negeri yang ideal.Perasaan saya mendengar ketika pendaftaran peserta didik baru (PPDB) menjadi seperti pembagian jatah antara suka sama suka dengan jumlah anak wali murid yang ada di tahun itu.Walaupun dalam perjalanannya itupun masih merasa kekurangan guru karena guru kelas harus terisi semua yang berarti 6 guru ditambah semisal 5 mata pelajaran bidang studi pokok 3 muatan lokal ,agama,dan guru olah-raga berdasarkan KTSP ( Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ) sekarang ini yang berjalan sejak tahun 2006.Ditambah setidaknya ada guru agama lain yang biasanya non Islam yang ada di daerah tersebut.Ditambah 1 kepala sekolah negeri idealnya sekolah ada sedikitnya sebagai rumus = 1 kepala sekolah+6 guru kelas+5 guru Mata pelajaran ( 1 mulok sekolah,1 mulok kabupaten,1 mulok propinsi 1 guru olah raga 1 guru agama )+1 penjaga +1 operator /TU+ 1 pustakawan .Dengan demikian idealnya sebuah sekolah dasar negeri /swasta ada = 15 Pendidik dan tenaga pendidikan yang mumpuni.Jika kedua SD itu digabung menurut logika akan berjalan normal sempurna semua dengan perbandingan guru tenaga pendidik dan jumlah murid yang ideal.(peta 2)

Lagi di wilayah saya juga ada yang sangat normal sekali dengan data 1 SD negeri satu -satunya sekolah tingkat dasar yang ada.Namun begitu juga masih mengeluhkan kekurangan tenaga guru negeri alias masih ada tenaga honorernya.Dari sekilas perkembangannya memang SD tersebut sering juara tingkat kecamatan dan kwalitasnya lumayan berakreditasi A terletak dipinggir jalan raya yang mudah diakses di seputar desa sesuai standar yang diharapkan.Inilah yang menjadi barometer saya karena beralasan bahwa saat sekarang ini akses informasi komunikasi dan transportasi begitu mudah dijangkau.Cukup 1 desa 1 sekolah yang berkwalitas.(peta 3)

Ini masukkan buat pengelola Sekolah Dasar Negeri berdasarkan pengamatan saya sendiri untuk efektifitas dan efisiensi sebagai sample untuk dievaluasi atasan.Begini,jumlah sekolah tingkat dasar di desaku ada 6 SD/MI : SD 4 MI 2.Namun dalam perkembangannya belasan tahun terakhir ke 3 SD berjalan sangat tertatih-tatih bahkan pernah putus kelas ada diantaranya sekolah di desa lain yang lebih dekat akses jangkauannya.Menurut sekilas data yang aku lihat sampai sekarangpun jumlah murid ketiga SD tidak pernah mencapai jumlah 50 alias SD kecil sekali namun beruntungnya rombel kelas rata bahkan ada guru yang mengajar siswa 2 anak saja padahal gurunya sudah bersertifikasi.
Begini saya bukan bermaksud mendikte pemerintah atau menunjukkan posisi gesekan guru negeri yang notabene kalau dihubungkan dengan posisi aturan Dapodik dan Padamu Negeri tidak memenuhi syarat yang diharapkan.Tingkat perbandingan guru dan murid sangatlah jauh dari standar.(peta 4 )

Dari ketiga pilihan peta diatas  ditambah gambaran keadaan di luar Jawa (peta 1) adalah sangat mingkin sekali dibenahi dengan tidak mengorbankan tenaga honorer yang masih berjalan sampai saat ini.Dengan masih memberdayakan tenaga honorer untuk semua diangkat menjadi PNS sebab saat ini PNS yang pensiun menghadapi purna tugas juga booming di tahun depan,dengan demikian kekurangan guru bisa diatasi.

Sebagai simpulan memformat sebuah sekolah yang tenaga pengajar dan tenaga pendidik negeri yang ideal sesuai jumlah rombel ( Rombongan Kelas ) sesuai pelayanan perbandingan murid sedikitnya 20 bagiku mudah tinggal aksi reaksi dan solusi tangan pemerintah untuk mewujudkannya karena menurutku sekarang teknologi dan manajemen pengelola pendidikan sudah profesional mudah didapat.Dengan demikian pelayanan pendidikan berjalan efektif dan efisien.Semoga yang berwenang memperhatikansebagai pertimbangan langkah ke depan memperbaiki keSDan yang berkwalitas.Saya percaya pemerintah mempunyai cara dan regulasi yang handal dalam mengatasi hal ini.