Sunday, May 17, 2015

TENAGA HONORER TETAP TEGAR MENUNGGU DIANGKAT PNS

Oleh :  Kalim,M.Pd.
SD Negeri Mojo 03 Cluwak Pati

Sebagai honorer K2 sampai saat ini belum ada tindak lanjut pasti sementara mengabdi di sekolah sebagai wiyata bakti sudah berpuluh-puluh tahun sejak sebelum PP 48 2005 diberlakukan.Aku yang mengabdi sejak 2002 belum juga lolos tes K2 terus kapan kita dapat angin segar seperti teman-teman yang lolos K2 tahun 2013/2014. Bagaimanapun kita tetap sabar menunggu sampai kita seperti teman-teman yang lain yang sudah duluan diangkat CPNS. Adakalanya putus asa seperti saat ini dengan gaji dibawah UMR Daerah dan tidak mencukupi sebagi tenaga honorer kategori 2 ini akan berpindah pekerjaan, tetapi disamping kendala sebagai tenaga honorer k2 di masayarakat sudah dianggap sebagai abdi negara yang sudah sama dengan PNS maka niat untuk keluar menjadi tenaga honorer k2 ini kubatalkan.Beban mental sebagai pegawai pemerintah sudah tertanam di masyarakat desa seakan kalau dilihat memakai baju seragam sudah dianggap pegawai negeri.Sebagai seorang setengah pemerintahan akupun aktif dalam kegiatan organisasi kepanitiaan tingkat desa dan kecamatan sebagai kader LKMD,PKK,Pos yandu,Kepemiluan dan lain-lain.
Ketika kita melihat tenaga honorer k2 dibandingkan dengan THLPP ( Tenaga Harian Lepas Penyuluh Pertanian ) Dinas pertanian jelas ada jurang pemisah yang dalam, THLPP dibiayai dengan Anggaran pusat Kementerian Pertanian sedangkan kami dari tenaga honorer K2 dibiayai oleh Anggaran Sekolah. kami hanya menggantungkan adanya tunjangan fungsional dan Bankes,Bos sekolah dimana sangat selektif bagi yang menerima.Saya menyadari memang anggaran  dan Quota sangat terbatas.Saya merasa sedikit lega menyandang predikat sebagai guru itu hanya di bibir saja, kadang aku menangis dalam hati sebagai manusia biasa kadang merasa sedih dengan keadaan ini.Sebagai guru saya ingin melanjutkan cita-cita orang tua saya sebagai guru pula.Tidak semudah yang saya bayangkan anak guru pasti menjadi guru tetapi guru lainlah yang bisa menolong seorang guru menurut pendapat saya.Informasi tentang pengangkatan Pns selalu saya update dari media maupun langsung dari teman guru sebagai penghibur di kala saya merenungi nasib saya.

Secara dinas maupun hukum memang SK Pengangkatan saya tidak menuntut gaji.Saya hanya berfikir pada waktu itu ada panggilan jiwa yang tak bisa saya diamkan.Panggilan mengajar sebagai rasa kepuasan tersendiri dari bagian mencerdaskan anak bangsa.Saya menjadi teringat dan merasa ditinggal ataupun ikut prihatin banyak dari rekan seangkatan honorer saya putus di tengah jalan alias keluar dari aktif mengajar alih pekerjaan lain seperti menjadi pedagang,atau ikut Koperasi simpan pinjam,merantau ke luar Jawa atau ke luar negeri.Kadang saya tergoda dengan mereka yang sukses setelah keluar dari honorer.Sayapun merasa senang dan bangga sudah menelurkan lulusan yang sekarang sudah bekerja.
Begitu juga ketika melihat Tenaga Kerja Wanita (TKW) atau TKI ( Tenaga Kerja Indonesia ) ke luar negeri walaupun pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga tetapi setiap bulan gajinya menggiurkan melebihi dari kita,padahal kita bekerja sama menghitung bulan dan tanggal akhir bulan yang sama.Untuk ongkos perjalanan saja masih kurang padahal kita sudah bekerja semaksimal mungkin untuk mencerdaskan anak Bangsa.Hari berganti hari tapi nasib kita belum tahu kapan kita mendapatkan upah yang standar seperti pegawai Negeri atau paling tidak mendekati ataupun dibawahnya.Sebagai pembanding kerja yang lain memang kita kalah dalam segi penghasilan.Namun secara aktif data ke dinas itu sebagai harapan satu-satunya dalam menatap hari esok yang mungkin bisa berubah lebih baik sebagai pegawai negeri.
Diatas adalah sebagian curhat dari anak buah saya ketika motivasi mereka bekerja kendur aku sebagai kepala sekolah dan guru Pns lain selalu memberi dorongan agar semangat mengajar setiap waktu.Saya yakin ini sudah didengar tidak hanya kali ini saja ratusan ribu honorer mestinya sudah tak sabar untuk menyandang sebagai negeri.Sebenarnya pegawai negeri tidak satu-satunya jalan untuk hidup namun jika menyadari kalau status honorer ini layak sepadan dihargai oleh pemerintah seperti penghasialannya di bawah pegawai negeri sedikit mungkin banyak yang menerima.Dari pada kami sering berdemo ataupun turun ke jalan masuk keluar kantor dinas bolak balik hanya membuang energi saja.

Kini setelah pulang dari kerja dari sekolah kami juga masih mencari penghasilan tambahan untuk mendukung menopang hidup kami sebagaimana hidup di sosial kemasyarakatan.Apapun keadaannya demi mencerdaskan anak bangsa mereka selalu tegar menghadapi perkembangan jaman saat ini.Mereka mencari nafkah tidak sekedar penghasilan tetapi juga martabat dan kehormatan yang akhir-akhir ini moral dan karakter selalu dikesampingkan.Saya sebagai kepala sekolah memperlakukan wewenang tugas yang sama dalam kedinasan sesuai batas-batas beban tanggung jawab mereka.Dari dinaspun tiada hentinya melaporkan bulanan sebagai penguatan keaktifan dalam dinas.Dalam setiap kegiatan lomba maupun acara sekolah selalu dilibatkan sebagai keluarga besar sekolah bagai seorang ibu menyayangi anaknya.
Inilah sebagian kecil pengakuan terdekat dari tenaga honorer yang ada di sekolah saya.Semoga bisa mewakili aspirasi mereka dalam menyongsong tes dan harapan kebijaksanaan pemerintah untuk direspon di dengar aspirasinya.Banyak kejadian dan peristiwa yang berhubungan dengan nasib mereka namun tidak semuanya bisa ditulis.Mudah-mudahan gambaran diatas cukup menunjukkan sebuah pengabdian yang ikhlas.Tuhan selalu melindungi mereka,selamat mengajar generasi emas indonesia !Semoga Honorer tetap tegar setegar lagu Indonesia Raya.