Thursday, May 7, 2015

UPAYA MEMASUKKAN KURIKULUM TENTANG BAHARI DAN KELAUTAN DI SETIAP JENJANG SEKOLAH



Oleh : Kalim,M.Pd. 
Kepala Sekolah SD Negeri Mojo 03 Kecamatan Cluwak Kabupaten Pati


Saya sebagai guru merasa bahwa untuk saat inilah upaya-upaya besar untuk membangkitkan kejayaan Maritim Indonesia lewat pelajaran-pelajaran di setiap jenjang sekolah adalah sangat penting dan mendesak.Ketika membaca KTSP ( Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ) disitu disebutkan bahwa dalam proses penyusunan satuan prndidikan diberi ruang untuk menyesuaikan kurikulum dengan :
1.Kondisi sekolah 
2.Lingkungan alam (laut) dan kondisi sosial ekonomi masyarakat
3.Karakteristik peserta didik.
Inilah yang menggagas saya untuk membudayakan siswa di sekolah-sekolah supaya cinta air dan laut negerinya sendiri yang wilayahnya sebagian besar adalah perairan.Juga sejalan dengan program pemerintah yang sedang gencar-gencarnya kembali ke laut dan tidak hanya mengandalkan tentang sumber daya darat saja.Ini untuk membangkitkan kejayaan maritim kita yang sudah dibuktikan oleh nenek moyang kita sejak dulu.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Ini sejalan dengan Undang-undang  Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan kurikulum nasional bukan lagi bersifat seragam, namun merupakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).Melihat konten kurikulum yang berjalan saat ini rupanya materi pembelajaran tentang kelautan masih sedikit sekali.Kita tidak cukup menggantungkan sekolah Kejuruan yang berbasis di SMK Kemaritiman ataupun Fakultas Perikanan dan Kelautan di Universitas yang jumlahnya terbatas.Untuk jenjang pembelajaran bertema kelautan dan kebaharian harus dibangun mulai dari tingkat bawah dari PAUD /Taman kanak-kanak.Saya berkeinginan supaya banyak siswa yang menguasai kompetensi kelautan muncul banyak sejak dini,untuk membangun menyumbangkan pemikiran negaranya yang sesuai dengan kenyataan bahwa wilayah Indonesia berupa air.
Karena adanya faktor-faktor tersebut, maka salah satu kriteria baik buruknya sebuah kurikulum bisa dilihat pada fleksibilitas dan adaptabilitasnya terhadap perubahan. Selain itu juga dilihat dari segi kemampuan mengakomodasikan isu-isu atau muatan lokal dan isu-isu global. Hal ini didasarkan  pada kenyataan bahwa pendidikan harus mampu mengantarkan peserta didik untuk hidup pada zaman mereka, serta memiliki wawasan global dan mampu  berbuat sesuai dengan kebutuhan lokal. 
Untuk dapat menuju pada karakteristik kurikulum ideal tersebut maka  proses penyusunan kurikulum tidak lagi selayaknya dilakukan oleh negara dan diberlakukan bagi seluruh satuan pendidikan tanpa melihat kondisi internal dan lingkungannya. Kurikulum hendaknya disusun dari bawah (bottom up) oleh   setiap   satuan   pendidikan   bersama   dengan stakeholder   masing-masing.
 Kurikulum  Berbasis   Kelautan   dan   Maritim

Pada saat sekarang kurikulum memiliki empat dimensi pengertian yang satu dimensi satu dengan yang lain saling berkaitan.
1.Kurikulum sebagai sebuah ide atau gagasan.
2.Kurikulum sebagai rencana tertulis.
3.Kurikulum harus diimplementasikan dalam sebuah kegiatan pembelajaran.
4. Kurikulum dilaksanakan dengan membudidayakan kondisi alam(laut),sosial,budaya dan muatan lokal.

Untuk itulah bahwa 'Orientasi Kurikulum Sekolah Harus berbasis Laut' adalah sebuah keharusan. Kekuatan sebuah bangsa ada di Sumber Daya Manusianya.Untuk itu Pemerintah sebagai Komando terdepan harus mengajak semua warga negaranya untuk selalu mencintai laut.Disini saya menghimbau supaya kerja sama Kementerian Pendidikan  Kebudayan dan Kementerian Kelautan Perikanan bisa membuat  "Booth"/pameran yang menarik di setiap sekolah agar pembelajaran menyenangkan.Langkah- langkah lainya saya usulkan untuk mengalihkan Orientasi Dana CSR BUMN dan Perusahaan Swasta dari pro darat ke laut agar percepatan pembangunan kelautan bisa menyumbangkan daya dan upayanya memanfaatkan laut untuk kesejahteraan.
Saya juga menyoroti langkah kerjasama Kemdikbud dengan KKP membuat terobosan program 'Gemar Makan Ikan' di sekolah -sekolah adalah langkah tepat untuk dioptimalkan bukan hanya secara lomba atau berkala namun bisa dikemas tiap jam 12 siang makan ikan secara rutin.Kurikulum tentang Pesisir, Pengolahan Ikan dan Maritim hendaknya dimulai diperkenalkan disisipkan setiap mata pelajaran di sekolah - sekolah.Kalau memungkinkan mefasilitasi tiap sekolah membuat konten Website khusus tentang keMaritiman,air, Biota Laut dan Ikan seiring kemajuan informasi dan komunikasi.Sebagai kepala sekolah saya juga berpesan kepada para guru semisal pelajaran bahasa Indonesia atau bahasa Inggris dan mata pelajaran lain untuk berkolaborasi mengeksplorasi kosa kata bidang kelautan.

Arah Pendidikan kita tentang kebijakan Poros Maritim Dunia

Indonesia merupakan negara yang memiliki modal dasar terlengkap untuk menjadi bangsa yang maju, sejahtera, dan berdaulat. Pertama berupa 250 juta penduduk, terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan AS.Jumlah penduduk usia produktif lebih banyak ketimbang yang berusia tidak produktif (bonus demografi), dengan jumlah kelas menengah yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini merupakan potensi pasar domestik yang luar biasa besarnya. Kedua adalah kekayaan alam yang melimpah dan beragam, baik yang terdapat di wilayah darat maupun lautan. Ketiga, posisi geoekonominya yang sangat strategis, di jantung pusat perdagangan global. Sekitar 45 persen dari seluruh komoditas dan barang yang diperdagangkan di dunia dengang nilai 1.500 trilyun dolar AS per tahun diangkut melalui laut Indonesia (UNCTAD, 2010).

Banyak faktor yang menyebabkan Indonesia tertinggal, mulai dari sistem politik yang menyuburkan budaya instan dan tidak kondusif bagi terbentuknya masyarakat meritokrasi sampai dengan lemahnya penguasaan dan penerapan IPTEK dalam kehidupan bangsa ini.Kita belum punya visi pembangunan yang tepat dan benar secara berkesinambungan. Visi pembangunan Indonesia sejak zaman penjajahan hingga sekarang berorientasi pada daratan. Padahal, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang 75% wilayahnya berupa laut.
Paradigma pembangunan berbasis daratan itu jelas bertentangan dengan fitrah fisik dan kondisi geografis Indonesia.Ini menyebabkan ekonomi Indonesia menjadi kurang efisien dan rendah daya saingnya. Oleh sebab itu, tekad Presiden dan Wapres terpilih, Jokowi dan Juyuf Kalla untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim yang maju, adil-makmur, kuat, dan berdaulat sebagai ( Poros Marititim Dunia ) adalah langkah paling tepat.

Padahal, Indonesia merupakan negara yang memiliki modal dasar terlengkap untuk menjadi bangsa yang maju, sejahtera, dan berdaulat. Pertama berupa 250 juta orang penduduk, terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan AS.Jumlah penduduk usia produktif lebih banyak ketimbang yang berusia tidak produktif (bonus demografi), dengan jumlah kelas menengah yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini merupakan potensi pasar domestik yang luar biasa besarnya. Keduaadalah kekayaan alam yang melimpah dan beragam, baik yang terdapat di wilayah darat maupun lautan. Ketiga, posisi geoekonominya yang sangat strategis, di jantung pusat perdagangan global. Sekitar 45 persen dari seluruh komoditas dan barang yang diperdagangkan di dunia dengang nilai 1.500 trilyun dolar AS per tahun diangkut melalui laut Indonesia (UNCTAD, 2010).
Banyak faktor yang menyebabkan Indonesia tertinggal, mulai dari sistem politik yang menyuburkan budaya instan dan tidak kondusif bagi terbentuknya masyarakat meritokrasi sampai dengan lemahnya penguasaan dan penerapan IPTEK dalam kehidupan bangsa ini. Dan, salah satu yang terpenting adalah karena kita belum punya visi pembangunan yang tepat dan benar serta dilaksanakan secara berkesinambungan. Visi pembangunan Indonesia sejak zaman penjajahanhingga sekarang berorientasi pada daratan. Padahal, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang 75% wilayahnya berupa. Paradigma pembangunan berbasis daratan itu jelas bertentangan dengan fitrah fisik dan kondisi geografis Indonesia, dan diyakini telah menyebabkan ekonomi Indonesia menjadi kurang efisien dan rendah daya saing nya. Oleh sebab itu, tekad Presiden dan Wapres terpilih, Jokowi dan JK untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang maju, adil-makmur, kuat, dan berdaulat (Poros Maritim Dunia) merupakan pilihan kebijakan yang sangat tepat.
- See more at: http://agromaritim.net/indonesia-poros-maritim-dunia-detail-1963#sthash.Vw5MSfeU.dpuf
Padahal, Indonesia merupakan negara yang memiliki modal dasar terlengkap untuk menjadi bangsa yang maju, sejahtera, dan berdaulat. Pertama berupa 250 juta orang penduduk, terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan AS.Jumlah penduduk usia produktif lebih banyak ketimbang yang berusia tidak produktif (bonus demografi), dengan jumlah kelas menengah yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini merupakan potensi pasar domestik yang luar biasa besarnya. Keduaadalah kekayaan alam yang melimpah dan beragam, baik yang terdapat di wilayah darat maupun lautan. Ketiga, posisi geoekonominya yang sangat strategis, di jantung pusat perdagangan global. Sekitar 45 persen dari seluruh komoditas dan barang yang diperdagangkan di dunia dengang nilai 1.500 trilyun dolar AS per tahun diangkut melalui laut Indonesia (UNCTAD, 2010).
Banyak faktor yang menyebabkan Indonesia tertinggal, mulai dari sistem politik yang menyuburkan budaya instan dan tidak kondusif bagi terbentuknya masyarakat meritokrasi sampai dengan lemahnya penguasaan dan penerapan IPTEK dalam kehidupan bangsa ini. Dan, salah satu yang terpenting adalah karena kita belum punya visi pembangunan yang tepat dan benar serta dilaksanakan secara berkesinambungan. Visi pembangunan Indonesia sejak zaman penjajahanhingga sekarang berorientasi pada daratan. Padahal, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang 75% wilayahnya berupa. Paradigma pembangunan berbasis daratan itu jelas bertentangan dengan fitrah fisik dan kondisi geografis Indonesia, dan diyakini telah menyebabkan ekonomi Indonesia menjadi kurang efisien dan rendah daya saing nya. Oleh sebab itu, tekad Presiden dan Wapres terpilih, Jokowi dan JK untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang maju, adil-makmur, kuat, dan berdaulat (Poros Maritim Dunia) merupakan pilihan kebijakan yang sangat tepat.
- See more at: http://agromaritim.net/indonesia-poros-maritim-dunia-detail-1963#sthash.Vw5MSfeU.dpuf
Padahal, Indonesia merupakan negara yang memiliki modal dasar terlengkap untuk menjadi bangsa yang maju, sejahtera, dan berdaulat. Pertama berupa 250 juta orang penduduk, terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan AS.Jumlah penduduk usia produktif lebih banyak ketimbang yang berusia tidak produktif (bonus demografi), dengan jumlah kelas menengah yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini merupakan potensi pasar domestik yang luar biasa besarnya. Keduaadalah kekayaan alam yang melimpah dan beragam, baik yang terdapat di wilayah darat maupun lautan. Ketiga, posisi geoekonominya yang sangat strategis, di jantung pusat perdagangan global. Sekitar 45 persen dari seluruh komoditas dan barang yang diperdagangkan di dunia dengang nilai 1.500 trilyun dolar AS per tahun diangkut melalui laut Indonesia (UNCTAD, 2010).
Banyak faktor yang menyebabkan Indonesia tertinggal, mulai dari sistem politik yang menyuburkan budaya instan dan tidak kondusif bagi terbentuknya masyarakat meritokrasi sampai dengan lemahnya penguasaan dan penerapan IPTEK dalam kehidupan bangsa ini. Dan, salah satu yang terpenting adalah karena kita belum punya visi pembangunan yang tepat dan benar serta dilaksanakan secara berkesinambungan. Visi pembangunan Indonesia sejak zaman penjajahanhingga sekarang berorientasi pada daratan. Padahal, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang 75% wilayahnya berupa. Paradigma pembangunan berbasis daratan itu jelas bertentangan dengan fitrah fisik dan kondisi geografis Indonesia, dan diyakini telah menyebabkan ekonomi Indonesia menjadi kurang efisien dan rendah daya saing nya. Oleh sebab itu, tekad Presiden dan Wapres terpilih, Jokowi dan JK untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang maju, adil-makmur, kuat, dan berdaulat (Poros Maritim Dunia) merupakan pilihan kebijakan yang sangat tepat.
- See more at: http://agromaritim.net/indonesia-poros-maritim-dunia-detail-1963#sthash.Vw5MSfeU.dpuf
Padahal, Indonesia merupakan negara yang memiliki modal dasar terlengkap untuk menjadi bangsa yang maju, sejahtera, dan berdaulat. Pertama berupa 250 juta orang penduduk, terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan AS.Jumlah penduduk usia produktif lebih banyak ketimbang yang berusia tidak produktif (bonus demografi), dengan jumlah kelas menengah yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini merupakan potensi pasar domestik yang luar biasa besarnya. Keduaadalah kekayaan alam yang melimpah dan beragam, baik yang terdapat di wilayah darat maupun lautan. Ketiga, posisi geoekonominya yang sangat strategis, di jantung pusat perdagangan global. Sekitar 45 persen dari seluruh komoditas dan barang yang diperdagangkan di dunia dengang nilai 1.500 trilyun dolar AS per tahun diangkut melalui laut Indonesia (UNCTAD, 2010).
Banyak faktor yang menyebabkan Indonesia tertinggal, mulai dari sistem politik yang menyuburkan budaya instan dan tidak kondusif bagi terbentuknya masyarakat meritokrasi sampai dengan lemahnya penguasaan dan penerapan IPTEK dalam kehidupan bangsa ini. Dan, salah satu yang terpenting adalah karena kita belum punya visi pembangunan yang tepat dan benar serta dilaksanakan secara berkesinambungan. Visi pembangunan Indonesia sejak zaman penjajahanhingga sekarang berorientasi pada daratan. Padahal, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang 75% wilayahnya berupa. Paradigma pembangunan berbasis daratan itu jelas bertentangan dengan fitrah fisik dan kondisi geografis Indonesia, dan diyakini telah menyebabkan ekonomi Indonesia menjadi kurang efisien dan rendah daya saing nya. Oleh sebab itu, tekad Presiden dan Wapres terpilih, Jokowi dan JK untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang maju, adil-makmur, kuat, dan berdaulat (Poros Maritim Dunia) merupakan pilihan kebijakan yang sangat tepat.
- See more at: http://agromaritim.net/indonesia-poros-maritim-dunia-detail-1963#sthash.Vw5MSfeU.dpuf
Padahal, Indonesia merupakan negara yang memiliki modal dasar terlengkap untuk menjadi bangsa yang maju, sejahtera, dan berdaulat. Pertama berupa 250 juta orang penduduk, terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan AS.Jumlah penduduk usia produktif lebih banyak ketimbang yang berusia tidak produktif (bonus demografi), dengan jumlah kelas menengah yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini merupakan potensi pasar domestik yang luar biasa besarnya. Keduaadalah kekayaan alam yang melimpah dan beragam, baik yang terdapat di wilayah darat maupun lautan. Ketiga, posisi geoekonominya yang sangat strategis, di jantung pusat perdagangan global. Sekitar 45 persen dari seluruh komoditas dan barang yang diperdagangkan di dunia dengang nilai 1.500 trilyun dolar AS per tahun diangkut melalui laut Indonesia (UNCTAD, 2010).
Banyak faktor yang menyebabkan Indonesia tertinggal, mulai dari sistem politik yang menyuburkan budaya instan dan tidak kondusif bagi terbentuknya masyarakat meritokrasi sampai dengan lemahnya penguasaan dan penerapan IPTEK dalam kehidupan bangsa ini. Dan, salah satu yang terpenting adalah karena kita belum punya visi pembangunan yang tepat dan benar serta dilaksanakan secara berkesinambungan. Visi pembangunan Indonesia sejak zaman penjajahanhingga sekarang berorientasi pada daratan. Padahal, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang 75% wilayahnya berupa. Paradigma pembangunan berbasis daratan itu jelas bertentangan dengan fitrah fisik dan kondisi geografis Indonesia, dan diyakini telah menyebabkan ekonomi Indonesia menjadi kurang efisien dan rendah daya saing nya. Oleh sebab itu, tekad Presiden dan Wapres terpilih, Jokowi dan JK untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang maju, adil-makmur, kuat, dan berdaulat (Poros Maritim Dunia) merupakan pilihan kebijakan yang sangat tepat.
- See more at: http://agromaritim.net/indonesia-poros-maritim-dunia-detail-1963#sthash.Vw5MSfeU.dpuf
Padahal, Indonesia merupakan negara yang memiliki modal dasar terlengkap untuk menjadi bangsa yang maju, sejahtera, dan berdaulat. Pertama berupa 250 juta orang penduduk, terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan AS.Jumlah penduduk usia produktif lebih banyak ketimbang yang berusia tidak produktif (bonus demografi), dengan jumlah kelas menengah yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini merupakan potensi pasar domestik yang luar biasa besarnya. Keduaadalah kekayaan alam yang melimpah dan beragam, baik yang terdapat di wilayah darat maupun lautan. Ketiga, posisi geoekonominya yang sangat strategis, di jantung pusat perdagangan global. Sekitar 45 persen dari seluruh komoditas dan barang yang diperdagangkan di dunia dengang nilai 1.500 trilyun dolar AS per tahun diangkut melalui laut Indonesia (UNCTAD, 2010).
Banyak faktor yang menyebabkan Indonesia tertinggal, mulai dari sistem politik yang menyuburkan budaya instan dan tidak kondusif bagi terbentuknya masyarakat meritokrasi sampai dengan lemahnya penguasaan dan penerapan IPTEK dalam kehidupan bangsa ini. Dan, salah satu yang terpenting adalah karena kita belum punya visi pembangunan yang tepat dan benar serta dilaksanakan secara berkesinambungan. Visi pembangunan Indonesia sejak zaman penjajahanhingga sekarang berorientasi pada daratan. Padahal, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang 75% wilayahnya berupa. Paradigma pembangunan berbasis daratan itu jelas bertentangan dengan fitrah fisik dan kondisi geografis Indonesia, dan diyakini telah menyebabkan ekonomi Indonesia menjadi kurang efisien dan rendah daya saing nya. Oleh sebab itu, tekad Presiden dan Wapres terpilih, Jokowi dan JK untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang maju, adil-makmur, kuat, dan berdaulat (Poros Maritim Dunia) merupakan pilihan kebijakan yang sangat tepat.
- See more at: http://agromaritim.net/indonesia-poros-maritim-dunia-detail-1963#sthash.Vw5MSfeU.dpuf
Padahal, Indonesia merupakan negara yang memiliki modal dasar terlengkap untuk menjadi bangsa yang maju, sejahtera, dan berdaulat. Pertama berupa 250 juta orang penduduk, terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan AS.Jumlah penduduk usia produktif lebih banyak ketimbang yang berusia tidak produktif (bonus demografi), dengan jumlah kelas menengah yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini merupakan potensi pasar domestik yang luar biasa besarnya. Keduaadalah kekayaan alam yang melimpah dan beragam, baik yang terdapat di wilayah darat maupun lautan. Ketiga, posisi geoekonominya yang sangat strategis, di jantung pusat perdagangan global. Sekitar 45 persen dari seluruh komoditas dan barang yang diperdagangkan di dunia dengang nilai 1.500 trilyun dolar AS per tahun diangkut melalui laut Indonesia (UNCTAD, 2010).
Banyak faktor yang menyebabkan Indonesia tertinggal, mulai dari sistem politik yang menyuburkan budaya instan dan tidak kondusif bagi terbentuknya masyarakat meritokrasi sampai dengan lemahnya penguasaan dan penerapan IPTEK dalam kehidupan bangsa ini. Dan, salah satu yang terpenting adalah karena kita belum punya visi pembangunan yang tepat dan benar serta dilaksanakan secara berkesinambungan. Visi pembangunan Indonesia sejak zaman penjajahanhingga sekarang berorientasi pada daratan. Padahal, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang 75% wilayahnya berupa. Paradigma pembangunan berbasis daratan itu jelas bertentangan dengan fitrah fisik dan kondisi geografis Indonesia, dan diyakini telah menyebabkan ekonomi Indonesia menjadi kurang efisien dan rendah daya saing nya. Oleh sebab itu, tekad Presiden dan Wapres terpilih, Jokowi dan JK untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang maju, adil-makmur, kuat, dan berdaulat (Poros Maritim Dunia) merupakan pilihan kebijakan yang sangat tepat.
- See more at: http://agromaritim.net/indonesia-poros-maritim-dunia-detail-1963#sthash.Vw5MSfeU.dpuf