Wednesday, June 10, 2015

LDBI (Lomba Debat Bahasa Indonesia) dan NSDC (National Schools Debating Championship) 2015 Pertama Kalinya Diselenggarakan Serentak



Tahun 2015 menjadi momen istimewa bagi dua program kegiatan lomba debat tahunan yang diadakan Direktorat Pembinaan SMA, yaitu LDBI (Lomba Debat Bahasa Indonesia) dan NSDC (National Schools Debating Championship). Untuk pertama kalinya penyelenggaraan LDBI dan NSDC diselenggarakan bersamaan di Provinsi Maluku, Ambon, mulai tanggal 7 – 13 Juni 2015.
Maluku sebagai tuan rumah sudah berbenah sebaik mungkin agar pelaksanaan kegiatan ini bisa berjalan lancar. Dukungan pemerintah daerah, dinas, masyarakat, dan pihak-pihak terkait menjadi indikasi bahwa Maluku siap menjadi tuan rumah yang baik bagi kegiatan LDBI dan NSDC. Beberapa lokasi sekolah tekah dipersiapkan untuk menjadi tempat pelaksanaan dua lomba debat tersebut, yaitu SMAN 1 Ambon, SMAN 2 Ambon, SMAN 4 Ambon, SMAN 5 Ambon, dan SMA Siwalima.
Sebagai tuan rumah Lomba Debat Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, Maluku kedatangan 200-an lebih peserta dari 34 provinsi. Para peserta ini merupakan perwakilan masing-masing provinsi yang terpilih lewat seleksi debat yang dilaksananakan secara berjenjang, mulai dari tingkat sekolah, kabupaten, hingga provinsi. Dari hasil seleksi tersebut, akhirnya terpilih 3 (tiga) orang pedebat terbaik (top 3 best individual) yang berhak mewakili daerahnya ke tingkat nasional.
Kriteria penilaian LDBI dan NSDC akan dilihat dari materi isi (content) dengan bobot nilai 40% ; penyampaian (style) 40%, ; dan strategi (strategy) 20%. Isi dinilai dari kekuatan logika, relevansi argumen, dan penggunaan data-data yang terkait dengan topik debat. Kriteria penyampaian menyangkut manajemen sikap tubuh, volume suara, kontak mata dan variasi ekspresi untuk membuat pidatonya menarik dan enak didengar audien. Sedangkan kriteria strategi menilai pembicara dalam memanfaatkan waktu yang diberikan dan menggunakan strategi pembelaan dan perlawanan dengan baik.
Secara teknis lomba debat, baik itu LDBI maupun NSDC, pelaksanaannya akan menerapkan sistem turnamen yang dibagi dalam 2 (dua) babak, yaitu babak penyisihan  (preliminary round) dan babak eliminasi (octo, semi, dan grand final). Setelah melewati tahapan-tahapan debat ini akhirnya akan dipilih yang terbaik sebagai Juara Tim (National Champion) dan Pedebat Terbaik (Best Speaker).
Khusus NSDC, pedebat terbaik yang terpilih di tingkat nasional tahun 2015 iniakan dipersiapkan untuk mewakili Tim Debat Indonesia ke ajang World Schools Debating Championship (WSDC) 2016 yang akan berlangsung di Stuttgart, Jerman.
Sebagaimana tujuan awalnya, ajang debat ini diharapkan menjadi wahana dan sarana bagi para peserta didik untuk memperluas wawasan, sekaligus juga melatih para generasi penerus ini agar terbiasa berpikir kreatif dan analitis, mampu bersaing secara kompetitif, berkomunikasi secara efektif, dan menyampaikan argumentasi di depan publik dengan baik dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Melalui kemampuan debat yang baik, para siswa bisa menyampaikan aspirasi, pemikiran, dan ide-ide mereka sehingga bisa dicerna dan diterima masyarakat luas. Debat juga melatih siswa untuk memiliki sikap toleransi yang tinggi dan menghargai perbedaan pendapat.
Suharlan, SH, MM, Kasubdit Kelembagaan dan Peserta Didik, mengungkapkan lomba-lomba debat seperti ini sangat penting bagi pembetukan karakter para siswa. LDBI dan NSDC merupakan salah satu bentuk fasilitas yang disediakan direktorat kepada para siswa bertalenta, khususnya debat. Bahkan, lanjut Suharlan, jenis aktivitasnya perlu lebih dikembangkan lagi.Lebih dari sekadar mencari juara, kegiatan positif seperti LDBI dan NSDC bisa menjadi salah satu penawar untuk solusi kenakalan siswa, seperti, tawuran, narkoba, dan kenakalan lainnya.  
“Direktorat selalu memfasilitasi siswa-siswi yang berbakat. Baik itu akademik maupun non akademik. Kami sarankan bagi kepala sekolah maupun dinas supaya sekolah-sekolah menumbuhkembangkan klub-klub, baik itu klub sains, klub debat, klub penelitian, klub pidato, dan lainnya, sehingga wadah aspirasi siswa ini betul-betul terbentuk di sekolah dengan menggerakkan  OSIS yang ada disekolah masing-masing,” kata Suharlan.
Patut disyukuri, minat siswa dalam ajang debat ini semakin meningkat dari tahun ke tahun pelaksanaannya. Peningkatan minat ini juga diikuti dengan semakin baiknya sistem seleksi yang dilaksanakan dimasing-masing daerah. “Debat ditiap daerah sudah ada proses seleksinya mulai dari sekolah sampai ke tingkat provinsi, sehingga mereka yang terpilih kesini adalah terbaik dari yang terbaik,” tutup Suharlan.