Tuesday, June 2, 2015

PENDAFTARAN PESERTA DIDIK BARU MENURUT ZAMANNYA

Oleh : @kalim nuryati

Add caption uPACARA  hardiknas di smkn cluwak pati
Pendaftaran kasta sebenarnya sudah ada sejak dulu di sekolah-sekolah sudah terkotak-kotak dengan sendirinya ini untuk orang kaya ini untuk orang miskin getarnyapun masih kurasakan hingga kini.Aku jadi teringat ketika masa kecilku ketika didaftarkan ke sekolah dasar paling  favorit maju di kotaku oleh bapakku yang notabene berpenampilan miskin butut yah...memang sungguhan miskin hampir-hampir tidak diterima.Begini ceritanya berdasarkan pengakuan dari ayahandaku dan akupun masih segar teringat waktu itu tahun 1970.Dengan wajah sedih lemas menyimpan penyesalan bapak dan aku pulang setelah mendengar keterangan kepala sekolah yang kuidam-idamkan sebagai pilihan waktu itu ditolak tidak diterima menjadi siswa sekolah tersebut dengan alasan tidak masuk akal oleh bapak pada waktu itu yang aku lupa karena pada waktu itu saya tidak mendengar langsung ketika bapak berhadapan dengan si kepala sekolah di ruang kantor kepala sekolah.

Namun tiba-tiba baru beberapa langkah pulang ada seorang guru putri yang sudah sepuh memanggil-manggil pak...pak..nak.. jangan pulang dulu ! lalu bapak dan aku mendekat.Entah ada dewa apa ibu guru itu yang lembut sopan menyapaku dan bapak,dengan sikap hormat menanyai bapak dan aku dengan perasaan memelas.Rupanya ibu guru ini dengan diam-diam melihat mendengar apa yang sedang dilakukan oleh ayahku di sekolah.Setelah dijelaskan semuanya oleh ayahku,ibu guru ini tersenyum lalu menanyai aku sebagai pengganti pertaruhanku jika bisa menjawab pertanyaan dengan benar ibu ini mau memperjuangkan aku yang pada waktu itu kecewa tidak diterma menjadi murid baru bisa diterima sekolah tersebut.Aku lalu diajak ke ruang kelas satu karena guru tersebut memegang kelas satu.Setelah berhadap-hadapan aku diberi pertanyaan-pertanyaan untuk mengukur kepandaian kepadaku.Masih ingat seperti calistung (baca,tulis,berhitung) yang untuk saat ini dilarang oleh pemerintah sesuai PP no.17 tahun 2010 bahkan aku disodori koran,aku lalap bisa membaca dengan lancar !.Akhirnya dengan tidak banyak pertimbangan aku diterima mantap sebagai murid di sekolah itu.Dan sejak itu aku belajar terus hingga SD,SMP sampai SPG mendapat bea siswa Supersemar.Keuntungan besar lain yang keluargaku terima adik-adikku diterima sekolah tersebut sampai turun-temurun sampai sekarang yang tertolong oleh NEM ( Nilai Ebtanas Murni ).

Kini aku sudah menjadi kepala sekolah SD menjadi berfikir aneh dan prihatin dengan dihadapkan mencari murid baru yang seolah berebut dengan sekolah lain yang kenyataan di lapangan saling mendahului dengan cara-cara tidak sehat bersaing,iming-iming janji,seragam,uang seperti membeli barang bukan memperlakukan utuh sebagai anak yang berakal tidak mendidik sama sekali.Anak-anak belum lulus sudah dimasuki racun dengan iming-iming sepele yang tidak berorientasi pada proses mencerdaskan.Secara perkembangan aku menyadari bahwa tidak bisa dilawan semua berpulamg pada pendaftaran seleksi murid baru yang menakar menurut zamannya.