Friday, September 18, 2015

4 ( EMPAT ) TAHAPAN BELAJAR IDEAL

diskusi kkks dan ePUPNS di sd negeri karangsari 03 cluwak pati
Sudah wajar bila kini seolah guru dibayar agak mahal untuk ukuran rata-rata pendapatan karyawan atau semisal pekerja biasa.Hal ini beralasan karena tidak semua orang bisa menjadi seorang guru, karena melihat memperbaiki anak nakal di sekolah saja sulitnya luar biasa di luar mengajar sehari-hari.

Ndandani moral sikap dan aqlak jauh lebih berat ketimbang memperbaiki semisal suatu alat ataupun barang.Masyarakat harus menyadari bahwa gaji atau bayaran guru sekarang memang sudah setimpal dengan tanggung jawab guru yang diembannya dalam mendidik.

Tinjauan yang mengatakan guru itu enak berada di sekolah hanya separuh hari namun gajinya besar dibanding guru yang lalu karena sekarang Pemerintah dan masyarakat menyadari itu.Bahwa membangun karakter mental; dan akhlaq jauh lebih sulit dan komplek bila dibanding membangun material barang ataupun jasa.Masyarakat hanya memandang dari segi kehadiran pulang saja bukan melihat secara keseluruhan tanggung jawab dalam melayani pembentukan proses moral anak.Ciri dan tugas fungsi serta kriteria seorang guru memang berbeda dengan profesi lainnya.Inilah yang kadang timbul kecemburuan dengan profesi lain.

Di bawah ini adalah 4 ( empat ) pendekatan siklus belajar yang menggambarkan bahwa kompetensi mengajar atau mendidik itu tidak dipunyai oleh smbarang orang.

Siklus seluruh kegiatan belajar manusia mempunyai empat unsur : Persiapan, Penyampain, Pelatihan, Penampilan hasil. Dipandang dari empat unsur ini, baik satu bentuk atau lain bentuk, pembelajaran yang sebenarnya akan berlangsung
Proses pembelajaran empat tahap yang sederhana ini bersifat universal, dan bisa diterapkan untuk belajar apa saja, dimana saja, dan kapan saja.

Misalnya : diterapkan pada bayi yang belajar bermain denga mainannya, anak yang belajar naik sepeda, remaja yang belajar bahasa asing, orang dewasa yang belajar menari. Dan lain sebagainya.
Menyalahi proses belajar ini banyak dilakukan di sekolah dan bisnis sekarang, jika salah satu dari empat tahap ini tidak ada, belajarpun akan merosot atau terhenti sama sekali.
Maka dari itu saya mencoba dalam makalah ini menggangkat tema “Empat Tahap Pembelajaran” . harap saya semoga dengan tema diatas kita bisa membenahi paling tidak bisa mencari jalan keluar bagaimana pendidikan di Indonesia bisa maju, berkembang sesuai dengan standar nya pendidikan yang proposional.
Empat Cara Ban-Pembelajaran Menjadi Kempes

1.Tahap Persiapan Lemah

Pembelajaran akan terganggu, jika system pembelajaranya tidak terbuka dan tidak siap untuk belajar, tidak menyadari manfaat belajar untuk diri sendiri, tidak memiliki semangat/minat belajar, atau terhambat oleh beberapa rintangan dan halangan dalam belajar.
Mengenai rintangan, banyak orang yang menyimpan perasaan negative tanpa menyadarinya bahwa berdasarkan pengalaman masa lalu, mereka mungkin mengaitkan situasi belajar formal dengan pengurungan, kebosanan dan hal-hal yang tidak relevan.
Adapun tujuan tahap persiapan adalah menimbulkan minat para pembelajar, memberikan perasaan positif meembelajar untuk menemukan materi belajar yang baru dengan cara yang menarik, menyanagkan, melibatkan panca indra, dan cocok untuk semua gaya belajar.
Ada beberapa cara untuk melakukan ini, diantaranya :
-uji-coba kolaboratif dan berbagi pengetahuan
-pengamatan dunia nyata
-pelibatan seluruh sel-sel tubuh
-presentasi interaktif dan warna-warni
-pelatihan meungan fisik,social dan emosional yang positif.
-menyingkirkan penghambat pembelajaran dan rasa yang feriori.
-banyak bertanya dan menggemukakan berbagai masalah serta mengajak
pembelajar terlibat penuh sejak awal.

2.Tahap Penyampain Lemah

Pembelajaran akan terganggu jika seseorang tidak memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang baru dalam cara yang berarti bagi mereka yang melibatkan diri mereka sepenuhmya. Apabila dalam pembelajaran mereka hanya sebagai konsumen pasif bukan creator aktif dalam proses belajar.
Ketika tips pembelajaran yang kita terapkan seperti ini, kemungkinan besar belajar akan berjalan dengan tidak stabil(pincang), atau malah terhenti karna bosan dan tidak senagan dengan system pembelajarn yang ada. Hal serupa mungkin saja, bisa terjadi jika gaya belajar pribadi seseorang tidak diperhatikan dalam tahap penyampaiannya.
Adapun tujuan penyampaian adalah membantu pembelajar untuk menemukan materi belajar yang baru dengan cara yang menarik, menyanagkan, melibatkan panca indra, dan cocok untuk semua gaya belajar.
Ada beberapa cara untuk melakukan ini, diantaranya :
-uji-coba kolaboratif dan berbagi pengetahuan
-pengamatan dunia nyata
-pelibatan seluruh sel-sel tubuh
-presentasi interaktif dan warna-warni
-pelatihan menemukan/memecahkan(sendiri, berpasangan,
berkelompok)masalah.
-pengalaman belajardi dunia-nyata yang kontektual.

3.Tahap Pelatihan Lemah

Dalam tahap penyampaian yang lemah system pembelajaran akan terganggu apabila dalam pembelajaran tidak mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang baru dalam cara yang berarti bagi mereka dan yang melibatkan mereka sepenuhnya. Jika mereka diperlukan hanya sebatas konsumen pasif bukan creator aktif dalam proses belajar, maka kegiatan belajar mereka akan berjalan dengan pincang bahkan bisa-bisa terhenti.
Hal yang sama mungkin saja bisa terjadi, jika gaya pribadi seseorang itu tidak diperhatikan dalam tahap penyampaian.
Adpun tujuan tahap penyampaian disini adalah membantu pembelajar menemukan materi belajar yang baru dengan cara yang menarik, menyenangkan, relevan, melibatkan panca indra, dan cocok untuk semua gaya belajar.
Ada beberapa metode untuk melaksanakan ini antara lain :
-Uji-coba kolaboratif dan berbagi pengetahuan
-pengamatan fenomena dunia nyata
-pelibatan seluruh otak dan seluruh tubuh
-presentasi interaktif
-grafik dan sarana presentasi berwarna-warni
-aneka macam cara untuk disesuaikan dengan seluruh gaya belajar
-proyek belajar sesuai berdasar-kemitraan dan berdasar tim
-pelatihan menemukan (sendiri, berpasangan, berkelompok)
-pengalaman belajar di dunia nyata yang kontektual
-pelatihan memecahkan masalah

4.Tahap Penampilan Hasil Lemah

Pembelajaran bisa terganggu pula, jika seseorang tidak punya kesempatan untuk segera menerapkanapa yang mereka telah pelajari. Apbila mereka tidak segera menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki dalam dunia nyata, sebagian besar akan menguap. Blass! Hilang!
Orang-orang bijak pernah mengatakan “Belajar dengan gaya menyimpan dalam kulkas tidak akan pernah berhasil”
Satu telah menemukan bahwa belajar tanpa penerapan segara dan upaya memperkut, hanya sekitar 5% dari pelajaran dikelas yang tetap diingat. Akan tetapi, dengan penerapan segera dan bimbingan serta dukungan yang tepat, 90% pelajaran akan tetap melekat.
Adapun tujuan tahap penampilan hasil adalah membantu pembelajar menerapkan dan memperluas pengetahuan dan keterampilan baru mereka pada pekerjaan sehingga hasil akan terus meningkat.
Kita bisa melakukan ini dengan :
-penerapan di dunia nyata
-penciptaan dan pelaksanaan rencana aksi
-aktivitas penguatan penerapan
-materi penguatan pascasesi
-pelatihan terus menerus
-umpan balik dan evaluasi kinerja
-aktivitas dukungan kawan
-perubahan organisasi dan lingkungan yang mendukung.

RANGKUMAN

Dari empat tahap diatas, pelatihan yang konvensional lebih cenderung menekankan tahap penyampaian. Misalnya, ketika kita merancang suatu program belajar kita sering mencuralkan 80% atau lebih dari seluruh usaha, uang, dan waktu kita untuk menyusun materi presentasi.
Padahal tahap penyampaian paling-paling menyumbang 20% dari bagian pembelajaran. Dan itu nyaris tidak ada gunaya sama sekali, kecuali jika didahului Tahap persiapan dan di ikuti Tahap Pelatihan dan Penampilan hasil yang sehat.


Sumber :
http://www.rantingbudaya.blogspot.co.id