Sunday, October 18, 2015

CIRI-CIRI MISKIN

owner http:KALIM PENGAJAR.dinamikagurusd,blogspot.com
http:KALIM PENGAJAR.dinamikagurusd.blogspot.com
a. Suka mengeluh
Pembaca maafkan saya yang mendapatkan hasil penelitian yang mungkin mengecewakan Anda. Atau bahkan ini sempat menyesakkan dada Anda. Ketahuilah bahwa 100 persen kurang dikit (mungkin 0,0001% yang tidak) orang yang saya jumpai mengeluhkan hidupnya. Padahal tidak sedikit orang yang saya wawancarai itu dari kalangan atas, kalangan berada. Tetapi mengeluh dengan berbagai alasan masih terjadi.
Saya bukan sombong, karena ini akan saya jadikan sebagai cambuk bagi saya, bahwa Alhamdulillah saya tidak mengeluh. Saya hanya terus mencari solusi untuk permasalahan yang saya hadapi. Hidup saya sebagai manusia yang tidak mungkin terbebas dari masalah saya kemas dalam kantong syukur yang saya tulis dimana-mana. Saya ingin dengan tulisan dan statemen saya tentang syukur itu akan mengingatkan saya dikala ingin mengeluh. Dan hasilnya, mohon kita sama-sama berdoa agar kita terbebas dari kebiasaan mengeluh.
Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah bahkan sebagian besar keluhan justru akan memperrumit permasalahan. Karena dengan mengeluh orang itu akan mudah panic dan bisa dibayangkan apa yang dirasakannya, siksaan hidup akan terus bersamanya. Ngapain mau hidup seperti itu.
Sangat banyak responden saya yang mengeluhkan kemiskinannya, seakan dia ingin apa yang dialaminya diketahui semua orang. Dia merasa paling menderita di dunia ini. Dan sayangnya orang seperti ini kok jumlahnya banyak banget di negeri ini. Subhanallah..
Ingat cirri orang miskin itu salah satunya adalah suka mengeluh. Jika Anda tidak mau dituduh sebagai orang miskin ya jangan mengeluh. Jika ada masalah baik yang Anda alami atau orang lain, selesaikan dan jangan hanya dibahas doing. Karena jika mengeluh terus melekat dalam diri kita, maka orang bisa saja menuduh bahwa kita takut dimintai atau takut dihutangi. Mau? Saya rasa jangan melakukannya.
b. Mudah terpancing emosinya
Rasanya ingin marah melihat orang yang mudah terpancing emosinya. Ya tentu saja karena Anda termasuk yang terkena hukum tarik menarik, hukum sebab akibat dan hukum tebar tuai. Kalau kita marah pada orang, cepat atau lambat orang itu akan marah pada kita. Dan kita pun mengalaminya, saat dimarahi apalagi terus-terusan, maka kita pasti juga akan marah.
Ini dia, pas tidak punya uang sama sekali, kok tega-teganya tetangga itu bercerita tentang sumbangan atau sedekah. Rasanya mau ngamuk saja. Kita kan tidak mau disebut sebagai orang pelit, jadi jangan pancing kami dong dengan pamer seperti itu. Demikian kalimat yang sempat saya rekam dalam penelitian saya.
Nah, aksi dari orang yang terpansing emosi ini bisa marah tanpa sebab. Dia bisa langsung mencaci bahkan menonjok orang di depannya. Sedikitnya marah atau meninggalkan lawan bicaranya saat terpancing emosinya.
Merasa tidak punya apa-apa ini sebenarnya sangat terkait dengan poin pertama, suka mengeluh. Dan suka mengeluh ini jelas disebabkan karena kurang bersyukur kepada Allah Swt.
Saat tulisan ini saya buat, saya sedang memberikan asistensi kepada seseorang yang sebelumnya sangat kaya, lalu merasa bangkrut karena keluarganya berantakan. Dia yang masih punya sedikitnya lima rumah yang nilainya cukup signifikan itu merasa tidak punya apa-apa. Dan yang sangat menggelikan adalah emosinya cepat terpancing. Bahkan saat dia mengamuk sambil membawa sabit (karena hanya itu senjata yang ada di rumahnya yang sudah empat tahun ditinggal), dia berteriak-teriak di tengah keheningan malam. Saya kira dia akan berkelahi dengan tetangganya atau bagaimana. Saat saya dibangunkan oleh dan mendengarnya, saya kejar ia yang sedang berteriak, memaki dan meluapkan amarahnya.
Setelah terkejar, saya cari ternyata musuhnya tidak ada. Dia hanya berkelahi dengan suara di HP-nya. Masya Allah, ngapain repot-repot ngurusi gengsi dengan melakuan kebodohan itu? Saya suruh beristighfar, saya ajak pulang dan dia mulai bisa mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
Dia lupa bahwa energy yang dibutuhkan orang untuk marah itu sangat besar. Maka, saat amarahnya mereda, tinggal lemasnya. So, apapun kata orang, emang gua pikirin? Dengar sih iya, tetapi berfikir dan fokus pada hal buruk adalah aksi bunuh diri yang sangat merugikan kita.
c. Mudah tersinggung
Apa bedanya antara mudah tersinggung dengan mudah terpancing emosinya? Kalau orang yang mudah terpancing emosinya biasanya cepat atau lambat dia ambil tindakan dengan emosinya itu. Sedangkan orang tersinggung ini lebih luas. Dia mungkin marah tapi lebih ditahan dan sebagian besar orang tersinggung ini digerogoti oleh penyakit aneh yang bisa merusak fisiknya juga. Orang ini bisa memiliki penyakit yang cukup banyak dan mematikan.
Jadi kalau Anda mudah tersinggung, maka waspadalah bahwa Anda sedang ingin bunuh diri. Setidaknya Anda ingin merusak fisik Anda secara sadar maupun tidak.
Orang miskin, kalau tadi lebih secara face to face orang terpancing emosinya, yang ini hanya mendengar kabar saja, atau bahkan hanya dari produk fikiran negatifnya saja dia sudah tersinggung. Dan selalu dia lebih tanpa disadari ingin mendzalimi dirinya sendiri. Dia ingin sekali mati atau pergi jauh menghindar dari berita-berita atau suara-suara yang tidak sesuai dengan mood-nya.
Ditegor mau diajak bicara saja pikirannya sudah jauh lari dari topic pembicaraan. Inilah cirri keren orang miskin. Miskin ini tentu saja bukan saja tidak punya uang dan keduniaan lainnya, dia juga miskin hati. Hatinya kecil, jiwanya lemah dan dia pasti sengsara dalam hidupnya. Dan kalau setelah membaca ini Pembaca belum setuju bahwa miskin itu dilarang saya pantas marah ni. Karena amat buruk output dari orang yang tersingung.
Bandingkan antara orang yang sedang ceria dengan orang yang lagi mbecungik (manyun ; Suroboyoan). Kita bisa menilai apakah yang manyun tadi orang kaya? Tidak. Dan sudah barang tentu orang yang tetap ceria dan bersemangat sepanjang hari, dia adalah orang kaya. Karena dia terus bersyukur dengan apa yang dialami, diperoleh dan diterimanya dari orang lain dan Tuhannya. Ingat, jika Anda dalam hidup ini mudah tersinggung, maka saya bisa menuduh Anda sebagai orang miskin. Ya kalau tidak percaya diingat saja, saat Anda merasa tidak punya apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa karena ketidakpunyaan itu, maka Anda akan mudah tersinggung. Jika iya, buang saja pikiran negative itu, rubah dengan syukur kepada Allah Swt.
d. Kurang syukur
Saat saya mengisi bedah buku yang dikemas secara sangat sederhana di sebuah perusahaan, usainya saya de=idekati seorang perempuan yang ternyata adalah istri dari penyelenggaranya. “Saya kok kena terus tadi Pak, jadi malu saya,” demikian yang dikatakan kepada saya dengan tersipu malu.
“Jadi saya kurang syukur ya Pak kalau masih suka mengeluh dan marah-marah?,” lanjutnya yang menjadikan saya menunda menjawab pertanyaannya.
Orang kalau masih kurang bersyukur tanda sebagai orang miskin. Karena kalau dituruti, manusia ini berapapaun tidakakan cukup. Itu adalah pekerjaan nafsu yang kita minimasi. Orang yang kurang bersyukur biasanya dia akan gelisah dan tidak tenang dalam menghadapi hidup yang sementara ini.Apapun kondisi yang sedang Anda alami saat ini, tidak punya apa-apa, apa yang diinginkan belum menjadi kenyataan, atau apalah bentuknya, harus tetap bersyukur karena semua itu adalah ilmu yang sangat bermanfaat bagi kehidupankita ke depan. Apalagi bila ternyata setelah kita hitung, kita bandingkan dengan orang lain di bawah kita, mestinya syukur itu makin dekat dengan diri kita. Sehingga bahagia akan senantiasa menyertai perjalanan hidup yang sementara ini.
Jika Anda tidak setuju bahwa kurang bersyukur adalah salah satu cirri orang miskin, maka mohon kiranya Anda bisa memberikan saya penjelasan yang lebih nyata dan memuaskan saya tentang itu. Yang jelas, jika ingin menjadi kaya, maka kita harus berperilaku sebagai orang kaya. Salah satu perilaku yang nanti akan dibahas di bagian belakang, cirri orang kaya adalah banyak bersyukur. Bersyukur entah apapun yang diterima itu cocok dengannya atau tidak
e. Resah
Ini sebuah konsekuensi, kalau banyak mengeluh, kurang bersyukur dan suka marah atau mudah tersinggung, usai melakukannya pasti Anda akan resah. Sebenarnya sih bermula dari penyesalah telah berperilaku buruk saja. Tetapi kalau hal itu diulang dan diulang lagi, maka bisa merusak mental.
Coba Anda adakan sebuah penelitian. Mengeluhlah kepada semua orang tentang kekurangan Anda, marahilah orang yang Anda temui dengan berbagai alasan karena tidak cocok dengan keinginan Anda, maka kita yang sebenarnya punya potensi besar menjadi orang baik ini akan menyesal. “iya ya, mengapa saya tadi kok melakukan itu ya?,” awalnya hanya seperti itu. Tetapi kalau sudah terlalu sering dilakukan, maka akan tertumpuk dan seoalh beku karena kerak yang terlalu banyak menghalangi.
f. Suka tangan di bawah
Pembaca, saya sangat memohon maaf karena budaya memberi itu belum berhasil saya dapatkan dari hasil penelitian di sebagian besar negeri ini. Boleh saja Anda mengatakan bahwa penelitian saya ini fiktif, tetapi cobalah Anda melakukannya juga, maka insya Allah hasilnya untuk saat ini sama dengan yang saya dapat.
Seharusnya kita berfikir untuk orang lain dulu. Jika ini sudah kita lakukan saya sangat yakin bahwa kita pasti dapat. Jadi kalimat, nanti saya dapat apa mestinya tidak perlu menjadi buah pikiran kita. Yakinlah jika kita menanam padi pasti akan tumbuh rumput. Sebaliknya, jika kita menanam rumput dan Anda berharap padi bisa tumbuh disana, mungkin perlu periksa ke dokter karena itu hal yang mustahil bisa terjadi.
Sudah banyak saya jelaskan dalam buku-buku saya bahwa jika kita memberi satu pasti dapat sepuluh. Ini tidak mengenal Suku Ras Agama dan Antar Golongan (SARA). Tetapi kan tidak semudah itu, kalau pas tidak punya apa-apa gimana? Ya tetap saja ada peluag untuk bersedekah. Bisa dengan apa yang ada, tenaga, pikiran dan juga doa.
g. Menghamburkan harta untuk kesenangan dan medit untuk orang lain
Takut menderita menjadi domain orang ini. Kebiasaan boros yang sebenarnya dia tahu itu saudara setan, tetapi tetap dilakukannya. Berbelanja hal-hal yang tidak dibutuhkan tetap dilakukan.
Ini ada pemahaman yang bagus untuk kita ambil dari Ustadz Ikrom guru utama saya. Kebutuhan adalah hal mutlak yang Allah harus memenuhi. Sedangkan keinginan, terserah Dia, mau memberikan kepada kita atau tidak.
Jadi dalam hidup ini kita harus pandai membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Saya menjamin bahwa jika sesuatu itu adalah kebutuhan, pasti Anda akan mendapatkannya. Namun sebaliknya, jika bukan, ya itu hak prerogative Allah untuk memberkan atau tidak. Karena Dialah yang paling tahu sesuatu itu baik untu kita atau tidak.
Ciri orang yang berjiwa miskin, dia suka membuang dan menghamburkan harta untuk kesenangan dirinya. Nafsunya akan memprotes keras jika kesenangan itu dihilangkan, atau bahkan hanya dibatasi saja. Dia akan terus mencari cara untuk tetap bisa melakukannya. Bila perlu ancaman bunuh diri dilakukan untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Dan sayangnya, orang miskin dengan tipe ini kepada orang lain pelit. Jika perlu kita dapat dari orang lain dan jangan mengeluarkan sepeser pun untuk orang lain. Saya yakin Anda tidak seperti ini. Dan jika ada bibit-bibit seperti itu segera hilangkan karena ending pasti akan buruk. Cobalah buktikan..
h. Tidak menghargai jerih payahnya sendiri
Ya kerana kurang bersyukur tadi akhirnya orang miskin tipe ini selalu merasa tidak puas. Dan buruknya, dia kecewa dan sering tidak menghargai jerih payahnya sendiri.
Misalnya, ada seorang yang sudah bekerja mati-matian sebagai karyawan atau karyawati di sebuah institusi, pulang malam dan kelelahan karenanya. Namun akibat kondisi yang dimiliki pada poni-poin sebelumnya, maka dia merasa kurang dan kurang terus. Walhasil, dia merasa bosan dengan keadaan dirinya. Padahal bila dibandingkan dengan yang lain dia sudah sangat-sangat mapan, tetapi karena terus merasa kurang tadi, dia mengingkari anugerah Tuhan berupa potansi dirinya yang besar itu.
Lalu apa yang akan dia dapat? Ya jelas saja, penderitaan terus menimpanya. Karena jiwanya yang miskin itu, maka apapun yang dimilikinya tetap tidak berarti bagi dirinya. Seolah dia menganggap hidup ini sebagai musibah dan bukan anugerah, kasihan sekali.
Obatnya, membuat catatan tentang nikmat yang banyak itu, mensyukurinya dan kembali bersemangat. Dengan semangat yang dimilikinya, tebarkan senyum kepada semua orang yang ditemuyinya, maka bahagia ini memang untuk Anda.
i. Suka mencari kambing hitam
Pembaca, jika Anda bertemu atau Anda sedang mengalaminya, maka segera insyaflah. Yaitu menjadi orang yang dalam hidupnya harus ada yang disalahkan. Selalu saja ada yang dikambinghitamkan. Padahal dia tidak sedang gagal dalam suatu program, tetapi tetap saja dia ingin ada yang bisa disalahkan olehnya.
Selidik punya selidik ternyata bukan apa-apa dia tidak pernah puas dengan yang ada ini. Orang seperti ini ternyata hanya kurang bersyukur atas karunia yang diberikan Allah kepadanya.
Jika ada indikasi orang terdekat atau siapa saja di sekitar Anda, mohon untuk diingatkan. Karena dia tidak akan pernah bahagia dengan perilaku yang dijalani itu. Dia akan terus kurang dan kurang. Apapun yang diinginya dan sudah terpenuhi pun, dia akan terus mengalami kekurangan. Inilah cirri orang yang miskin sebenarnya.
Meskipun dia terlihat serba berkecukupan oleh orang lain, namun jiwanya gersang. Dia merasa hidup ini tidak pernah nyaman dan terus ada yang kurang dalam dirinya. Karena dia orang miskin dan orang yang jauh dari rasa syukur kepada Allah. Dia akan menderita dengan keinginan nafsunya yang terus mengejarnya. Dan siksaan itu amat pedih, sebagaimana ancaman Allah bagi orang yang tidak bersyukur.
Sekali lagi, syukur memang obat dan menjadi obat bagi orang miskin. Jika kamu bersyukur maka akan Aku tambah nikmatnya, dan jika kamu mengingkari, maka siksa-Ku amat pedih (Qur’an)
Adapun ciri yang lainnya menurut sumber yang lain ada yang menyebut miskin hati,miskin mental,miskin ide,miskin menurut ajaran agama,miskin menurut golongan teori pemerintah versi Badan Statistik dan menurut pandangan masyarakat  semua itu menjadikan kita sadar bahwa bersyukur kepada Alloh dengan mencintai kerja adalah prinsip utama menjalankan ibadah iman dan bertaqwa.