Saturday, October 24, 2015

SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PADA HARI AKSARA INTERNASIONAL TINGKAT NASIONAL TAHUN 2015

owner @dinamikagurusdkele


KERAWANG 25 OKTOBER 2015

Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,Salam sejahtera untuk kita semua

Ibu dan Bapak hadirin yang saya hormati,Mengawali sambutan    ini, marilah kita senantiasa memanjatkan  puji  dan  syukur  ke  hadirat  Tuhan Yang Maha   Kuasa, Allah SWT,   atas   perkenan   rahmat   dan hidayahNya,   sehingga   kita   semua   masih   dikaruniai kesehatan,kekuatan dan kesempatan   untuk   terus melanjutkan  pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta

Izinkan saya memulai pembicaraan dengan bertanya sebuah  hal  sederhana.  “Berapa banyak penduduk kita yang bisa membaca saat para pendiri Republik menyatakan kemerdekaan? ”Pada  saat  kita dengan  lantang  berteriak  merdeka,lebih dari 90 persen penduduk kita bahkan tak bisa menuliskan namanya  sendiri.  Maka  bayangkan  ketika  Bung  Karno mengatakan,  “Beri  saya  sepuluh  pemuda!” boleh jadi 9 dari 10 pemuda tersebut tak bisa mengeja namanya.

Fakta itu boleh jadi mencengangkan,tapi  apa yang  para pendiri Republik ini lakukan jauh lebih mencengangkan.Usaha   melawan ketidakterdidikan telah para pendiri Republik ini  gaungkan bahkan sebelum Republik ini menyatakan   kemerdekaannya.Ki Hadjar Dewantara dalam “Rapat Panitia   Adat dan Tata negara Dahulu ”sebelum  proklamasi  mengatakan, “Sebenarnya  dari  pihak rakyat  sendiri  sudah  sejak  lama  nampak  usaha  hendak memberantas buta huruf di kalangan rakyat ini.”Ki  Hadjar  kemudian  mencontohkan  dari  Kongres  Putri sampai   Rukun   Tani   melakukan   kegiatan   pengajaran membaca. 

Kesadaran  akan  pentingnya  membaca  bukan tiba-tiba hadir   hari-hari ini,ia lahir bahkan sebelum proklamasi kita canangkan.Ikhtiar  itu  terus  kita  bawa  jauh  setelah  proklamasi.Saya ingat  sebuah  foto  Bung  Karno  di  depan  spanduk  saat  ia bicara  di  Yogyakarta.  Tulisan  di  spanduk  itu  tak  seperti biasa.    Spanduk    itu    dimulai    dengan    sebuah    kata,“Bantulah”.  Lengkapnya  “Bantulah  usaha  pemberantasan buta-huruf!”.Pemerintah membuka   angannya   untuk   bekerjasama.Mengajak berkolaborasi. Hasilnya dahsyat!

Gerakan Pemberantasan Buta Huruf (PBH) yang Bung Karno  canangkan  menjadi  gerakan  semesta  di lebih  dari 18  ribu tempat, melibatkan  lebih  dari 17 ribu  guru  dan sekitar  700  ribu  murid.Sampai  tahun 1960 Bung Karno menegaskan bahwa Indonesia  harus  terbebas  dari  buta huruf.  Republik  ini  kemudian  menjelma  dari  tak  terdidik menjadi terdidik.Hadirin yang berbahagia,Pekerjaan  rumah  bukan  berarti  telah  telesai.  Bung  Karno dan  seluruh  elemen  masyarakat  telah  mengantar  kita pada  gerbang  keberaksaraan.  Tapi,  tugas  tak  selesai sampai di sini.Pada  tahun  2010  penduduk  Indonesia  usia  15 -59  tahun yang melek aksara sekitar 95,21 persen.

Angka   ini kemudian  naik  pada  tahun  2014  menjadi  sebesar  96,3 persen.  Angka  tersebut  menunjukkan  keberhasilan  kita memenuhi   target   Deklarasi   Dakar   tentang  Pendidikan Untuk  Semua  (PUS)  atau Education  for  All (EFA)  bahwa Indonesia  dapat  menurunkan  separuh  penduduk  tuna aksara menjadi  kurang  dari 5  persen  pada  2015.  Tapi angka  itu  juga  berarti masih  ada  sekitar  5,9  juta  orang yang   belum   mampu   mengeja   dan   menulis   namanya sendiri.Saat ini tercatat sebanyak 8 provinsi yang persentase tuna aksaranyama masih di atas 5 persen.Angka-angka  itu bukan  sekadar  deretan  statistik buta huruf.  Angka  itu memberi  pesan  nyaring belum  semua warga negeri ini bisa menuliskan “Indonesia”   dalam secarik kertas.Tantangan    aksara    bukan    sekadar    bisa  membaca,tantangan keberaksaraan lebih  besar  dari  itu.Jika  kita lihat  dalam  konteks  itu,  maka  bisa  jadi angka  “butaaksara” kita masih mengkhawatirkan.

Taufik Ismail,salah satu sastrawan kita,pada saat menerima Habibie Award tahun 2007 mengatakan bahwa kita  masih  diselimuti  oleh  “Generasi  Nol  Buku”.  Generasi yang  tak  membaca  satu  pun  buku  dalam  satu  tahun.“Generasi yang rabun membaca dan lumpuh menulis.”Kekhawatiran   Taufik   Ismail   itu   bukan   kekhawatiran kosong  belaka,  sastrawan  besar  kita  Buya  Hamka  pernah mengatakan,  “Setiap  insan  perlu  membaca  buku,  sebab pena  seseorang  tidak  akan  berisi  kalau  sekiranya  dia kurang membaca”.Pernyataan Taufik Ismail dan Buya Hamka seperti sebuah lonceng  atas  data Programme  for  International  Student Assessment (PISA)  tahun  2012  yang  menyatakan  bahwa kemampuan   literasi   (membaca   dan   menulis)   siswa Indonesia jauh tertinggal.

Maka  tugas kita  jelas,  “Generasi  Nol  Buku”  ini  harus  kita ubah ! Keberaksaraan  bukan  sekadar  mengubah yang  tak  bisa membaca menjadi bisa membaca,tetapi juga mendorong yang bisa membaca untuk   terus   membaca.Menjadi generasi yang menjelajah lewat aksara yang ia baca.Pertanyaan   besarnya adalah bagaimana kita bersama akan mengubah keadaan “Generasi Nol Buku” ini Ibu dan Bapak yang saya hormati,Gerakan  pemberantasan  Buta  Huruf  (PBH)  yang  Bung Karno  dan  seluruh  elemen  masyarakat  lakukan,  beberapa dekade  silam  sesungguhnya  bukan  hanya  sebuah  usaha mengurangi  angka  buta  aksara.  Gerakan  ini  mengirimkan satu pesan tegas pada kita semua.Secara  konstitusional  pendidikan  adalah  tanggung  jawab pemerintah,   tapi secara moral pendidikan adalah tanggung jawab setiap orang yang terdidik.Maka  kita  harus  mengubah  perspektif  dalam  mendorong kualitas  keberaksaraan  kita.Meningkatkan  keberaksaraan adalah gerakan bersama.

Pemerintah dalam hal ini Kemdikbud terus berikhtiar meningkatkan kualitas keberaksaraan kita.Kita juga mendorong percepatan program keberaksaraan pada daerah-daerah  yang  memiliki  angka  tuna  aksara  tinggi.Melalui  “Afirmasi  pendidikan  Keaksaraan  Untuk  Papua” (APIK  PAPUA)  kita  melakukan  percepatan  peningkatan keberaksaan di daerah Papua.Ikhtiar untuk meningkatkan keberaksaraan juga kita lakukan melalui Permendikbud No.23 tahun 2015 mengenai  Penumbuhan Budi Pekerti (PBP) Salah  satu poin  utama  dalam  Permendikbud tersebut adalah semua warga sekolah  baik  siswa,guru,tenaga pendidikan,dakepala sekolah wajib membaca  buku selain buku  eks pelajaran selama 15 menit sebelum hari pembelajaran.

Tujuannya jelas yakni menggiatka budaya membaca dan
menghapus “Generasi Nol Buku”.Tantangan  keberaksaraan  kita  kini  tentu  berbeda  dengantantangan  ketika  kemerdekaan.  Kita  tak  hidup  dalamruang  vakum,  maka  persaingan  dan  tantangan  era  inijuga penting untuk kita jawab.Salah  satu  kompetensiyang  perlu  kita  dorong  adalahmanusia   Indonesia   yang   memiliki   kompetensi   globaldengan pemahaman akar rumput. Kemampuan berbahasa dan keberaksaraan  adalah  kendaraan  bagi  kita  untukmenjawab kebutuhan manusia Indonesia masa depan.Maka  salah  satu  kompetensi  yang  harus  kita  siapkanadalah  kemampuan  berbahasa  dan  berkomunikasi  untuk pergaulan  di  level  global  dan  akar  rumput.  Minimal  ada tiga   bahasa   yang   harus   kita   kuasai   yakni   BahasaIndonesia, bahasa internasional, dan bahasa daerah.

Saya  sengaja  menggunakan  istilah  bahasa  internasional bukan    sekadar    Bahasa    Inggris    karena    ini    tangat tergantung  dengan  komunitas  internasional  mana  yang
sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang.Lewat   bahasa   internasional   kita   berkawan   dengan komunitas   global.

Melalui   bahasa   daerah   adalah   kita memahami ragam kultur daerah, memahami akar rumput kita, dari mana kita berasal.
Menjawab  tantangan keberaksaraan  di  era ini tentu  tak bisa  kita  lakukan  dalam  satu  dua  malam.  Perlu  kerja ekstra   keras dan konsisten dari setiap kita untuk mewujudkannya.  Tugas  kita  bersama  bukan  meratapi keadaan  yang  ada,  tugas  kita  bersama  menjadi  bagian dari solusi!

Ibu dan Bapak hadirin yang saya hormati,Tentu menjadikan    keberaksaraan    sebagai gerakan bersama  adalah  ikhtiar  kita  bersama.  Yang  perlu  kita jawab  bersama  adalah  apa  saja  langkah-langkah  konkret yang bisa kita lakukan untuk     meningkatkan keberaksaraan? Setiap  orang  bisa  ikut  berkontribusi  dengan  langkah-langkah konkret berikut ini:

Pertama,
Setiap  orangtua  perlu  mengenalkan  aksara sejak  dini.  Mengenalkan  aksara  bukan  berarti  langsung kita  mulai  dengan  mengajarkan  membaca  dan  menulis.Perkenalan  pertama  anak-anak  kita  pada aksara  adalah dengan    merangsang    ketertarikannya    pada    bacaan. Orangtua  bisa  membacakan  cerita  untuk  anak-anaknya.Praktik   baik   yang   bisa   kita   lakukan   adalah   dengan memberikan  alokasi  waktu  khusus  membacakan  cerita untuk anak.Membacakan  cerita  mungkin  terkesan  sederhana.Tapi dari  sana  anak-anak  kita akan berimajinasi.Ia akan tahu bahwa lewat aksara dirinya bisa mengenal dunia.

Kedua, 
Sekolah perlu membuka diri menjadi agen perubahan  keberaksaraan.Bagaimana caranya ? Caranya adalah dengan berkolaborasi bersama warga sekitar untuk mengelola kegiatan  membaca  baik  di  perpustakaan  atau fasilitas membaca yang sudah ada.Perpustakaan sekolah    perlu  lebih terbuka dengan memberikan akses  pada warga   sekitar untuk ikut membaca dan beraktivitas  di sana.  Warga  sekitar  juga bisa  berperan  aktif  menghidupkan  perpustakaan  dengan ikut bertukar bacaan,   mengadakan   kegiatan   literasi bersama  siswa  dan  guru  di  sekolah  dengan  melibatkan pegiat sastra lokal.Lewat  keterbukaan  dan  kolaborasi  itu sekolah dan  warga juga bisa ambil peran dengan menjadi balai pemberantasan buta aksara.Guru, kepala sekolah, warga,atau  siswa berkolaborasi  dengan  pemangku  kepentingan daerah bisa  bergantian  mengajar  membaca  bagi  warga yang belum bisa baca tulis.Perpustakaan   dan   sekolah   yang   lebih   terbuka   dan bersahabat    adalah    langkah    penting    menumbuhkan kecintaan  aksara  di  lingkungan  kita.

Perpustakaan  boleh sederhana, tapi kegiatan di  dalamnya   menghasilkan manfaat bagi banyak warga! Untuk  guru, saya  berpesan satu hal, jadilah inspirator membaca.Jika guru aktif  membaca maka muridnya pasti gemar membaca !Tugas kita  adalah menimbulkandan menumbuhkan kecintaan  membaca.Kebiasaan membaca tumbuh karena kecintaan bukan karena paksaan.

Ketiga,  
Mengambil peran aktif dalam kegiatan menulis.Membaca dan    menulis adalah padu padan roda peradaban.Lewat  membaca,manusia menjelajah dunia tanpa batas,dengan  menulis penjelajahan  tersebut akan kita lestarikan.Maka semua  warga  sekolah  perlu  mengaktifkan  kegiatan menulis.Aktifkan  majalah dinding sekolah,buat resensi atas buku yang warga    sekolah baca,    an latih kemampuan  menulis  baik  dengan  praktik  langsung  atau melalui diskusi-diskusi sederhana di sekolah.

Upaya-upaya  tersebut  adalah  praktik-praktik  sederhana  yang  bisa kita lakukan.Kita percaya bahwa masing-masing kita punya  beragam praktik baik yang bisa menjadi inspirasi.Saya minta    bagikan dan ceritakan praktik baik keberaksaraan yang sudah  ibu dan bapak lakukan.Biarkan praktik baik itu jadi inspirasi  untuk meningkatkan keberaksaraan di titik-titik penjuru negeri ini !

Ibu dan Bapak hadirin yang saya hormati,
Pada kesempatan yang berbahagia ini izinkan Saya
menyampaikan rasa prihatin kepada masyarakat
Indonesia yang tengah mengalami musibah bencana asap
akibat  kebakaran  hutan  di  beberapa  wilayah  dibumi  kita tercinta ini. Sesuai pesan Bapak Presiden RI, Kepada para Kepala Daerah yang wilayahnya berdampak bencana asap,bersama  Forum  Komunikasi  Pimpinan  Daerah  harus  aktif terjun  langsung  ke  lapangan  memimpin  mengendalian kebakaran dan mengatasi dampak kabut asap.Bila   kualitas   udara   sudah   melebihi   angka   toleransi,

Presiden  RI  menginstruksikan  kepada  Mendikbud  agar menghentikan   kegiatan   pendidikan   dan   menyesuaikan standar pendidikan yang terhenti tersebut.
Presiden  menggarisbawahi  bahwa  kebakaran  hutan  ini
adalah   masalah   kita   bersama.   Untuk   itu,   Presiden
mendukung   berbagai   bentuk   inisiatif   gerakan   dalam
masyarakat  untuk  terlibat  langsung  dalam  memadamkan
api maupun dalam mengatasi dampak kabut asap.

Ibu dan Bapak hadirin yang saya hormati,Akhirnya sebagai     penutup sambutan ini,Saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Gubernur Jawa Barat dan Bupati  Karawang  serta  seluruh masyarakat Jawa Barat yang telah bersedia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Hari Aksara Internasional Tingkat Nasional Tahun 2015.

Saya ucapkan selamat dan penghargaan kepada para Gubernur/Bupati/Walikota yang mendapatkan  Anugerah
Aksara tahun ini, atas komitmen yang tinggi  dalam menurunkan  angka tuna aksara di wilayahnya. Ucapan selamat  juga  kepada  para  pimpinan lembaga/organisasi penyelenggara  program  PAUD  dan  Dikmas  yang  meraih juara  lomba  satuan  PNF berprestasi,  yang  telah  ikut mensukseskan  gerakan nasional percepatan  penuntasan tuna aksara dan gerakan berkolaborasi dengan masyarakat.

Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala upaya dan usaha kita dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan cita-cita kemerdekaan kita.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Karawang,24 Oktober 2015
Menteri  Pendidikan  dan Kebudayaan RI
ANIS BASWEDAN