Sunday, November 22, 2015

Bapak Matematika Bukan Bapak Bahasa

Owner http://dinamikagurusd.co.id Kepala SD Negeri Mojo 03 Cluwak Pati

http://dinamikagurusd.co.id
Menurutku pelajaran matematika adalah satu-satunya pelajaran terluwes di sekolah dasar yang menjadi bulan-bulanan guru dalam berspontanitas mengisi capaian-capaian kekurangan per individu anak dalam pola berfikir cepat yang rata-rata anak kurang menyukanya.Kesan ini nampak kepada saya ketika mengisi kekosongan jika ada guru kelas yang tugas dinas ataupun ijin.Pelajaran perkalian,pembagian biasanya menjadi sasaran empuk guru seperti saya untuk beralasan bahwa anak-anak tingkat belajarnya kurang.Saya mengaku pernah mengajar dari pagi sampai pulang matematika terus berhitung terus sebagai ukuran keberhasilan anak pandai ada di keasyikan bermain ala matematika walau itu menyalahi pasal akademik kegembiraan anak.Sering saya mendengar ada kesan siswa tertentu memandang seseorang guru itu menarik dan kelihatan pandai karena kepiawaian guru membawakan pelajaran matematika dengan baik seolah anak terbius kemauan guru karena anak takut tidak bisa matematika.

Guru gigih dalam menghargai waktu untuk menanamkan dasar hitung sebagai bekal anak lulus nanti dengan mengorbankan mata pelajaran lain yang termakan oleh ketidakberdayaan latihan terus-menerus variasi soal matematika yang tiada habis untuk diselesaikan.Hanya dengan satu atau dua soal uraian matematika yang sulit untuk anak bisa dijadikan guru untuk mempertahankan dia menunggu kegelisahan siswa menghabiskan waktu untuk sengaja berlama-lama tanpa capek menerangkannya pernah saya lakukan.Atau barangkali memberi tes mencongak atau bagi kukus akan terasa cukup melelahkan bagi anak dalam mengerjakannya bisa mewakili guru dianggap serba bisa alias hordog.Hal salah seperti ini jangan ditiru,saya percaya kamulah bapak/ibu guru sempurna dalam matematika yang ramah santun dan menggembirakan bagi anak.Saya bapak matietika bukan bapak matematika apalagi bapak bahasa.

Bila dihubungkan urusan bahasa persiapan untuk mengisi kekosongan kelas pelajaran agak susah apalagi jika sang guru kurang pandai bercerita.Ujung-ujungnya matematikalah pelajaran yang paling mudah disajikan ke siswa tanpa persiapan khususpun bisa meski ada protes siswa tidak sesuai jam pelajaran semestinya,gurulah pengendali dan penjelas terpercaya dalam menyajikan darurat kekosongan kelas sebagai pengganti guru dan wali kelas biasanya.Dalam pembiasaan pulang saya selalu memberi tes lesan hitungan perkalian sebagai cara termudah mengontrol tingkat daya serap anak memancing berhitung secara awangan agar selalu melekat di benak mereka meski dianggap kuno seperti obat manjur mengalahkan komdiputer.Sekedar les ringan aku biasakan anak-anak mengemukakan sendiri menu topik kompetensi pelajaran yang tidak bisa lsemisal bilangan pecahan lalu saya spontan memberi soal ringan sesuai pertama kali agar anak tidak terasa kaget sulit mudah terjangkau.

Aneh, jika menengok kebelakang saya ketika di SPG dulu anak yang bodoh matematika terlihat puas sampai sekarang tergores tajam nilai 5 di ijasah saya,bin ajaib nilai favorit pelajaran bahasa inggris saya juga 5.Entah dari sudut pandang apa dulu saya pernah disuruh bapak guru di SPG mengajar bahasa Inggris kepada teman-teman sekelas,dan ternyata bisa bahkan terkesan pandai dan  fasih, meski saya tidak pernah conversation or talking sama bule, boro-boro ngerti TOEFL yang jadi silabusku lagu Feelings Morris Albert yang masih aku ingat lagu nostalgila di kaset gulung bergambar sang lelaki menggendong pacarnya.

Sampai sekarang kebiasaan tidak belajar adalah motto saya sehari-hari karena saya risih dengan rumus-rumus,kurikulum ataupun pekerjaan dinas yang seperti robot kaku mematung.Saya akui sebagai magister abal-abal bebal mengajar bahasa di SD yang skalanya kesulitannya kecil namun bagiku petaka besar itu menyusahkan karena kurang sekali karakter yang saya dapat di kuliah terbang jauh dengan konsep keSDan.Entah ada perangai apa kadang saya dikatakan si jago matematika oleh anak-anak,itupun saya jujur tidak pas dengan hati nurani saya,semua terbangun dari keteteran yang kebetulan saya selalu ditempatkan di SD yang kekurangan guru.Semua terjadi dari kebiasaan menerima keadaan kelas kosong mengisi sesuatu yang berguna harus diselamatkan dengan matematika.

Pernah saya menjadi guru olah raga berbulan-bulan karena guru olahraganya perempuan cuti hamil,untuk ukuran saat ini memang lebih dari 24 jam pelajaran seminggu.Bila dianggap bisa saya juga sering menunggui mengajar pelajaran Agama meski  Fatekah saya hambar.Nampaknya mengajar pada waktu sebelum sertifikasi 24 jam pelajaran per minggu terasa ringan sekali dan tidak perlu rebutanSampai sekarang napak tilas saya sebagai guru sangat buruk hingga ada teman seangkatan kepala sekolah saya nyeletuk dulu itu saya dianggap 'ngejur' di sekolah yang dulu saya tinggalkan ditempati oleh teman saya tadi.Sambil guyon dia berkata sekarang sekolah saya baik semenjak saya tidak disitu.Terus saya tambahi begini wong saya kok bisa menjadi kepala sekolah,langsung disahut 'salah yang milih' itu bukan salah saya pas sekali dagelan ala Gus Dur aku terasenyum.Guru itu kaya akal seperti dalang yang tidak pernah kehabisan lakon.Begitulah guru yang sejatinya bisa menyembunyikan kekurangan namun harus mampu berwibawa di muka siswa menanamkan kepercayaan kompetensi guru yang dewasa dan profesional.