Monday, November 30, 2015

BIARLAH MURID YANG MENILAI GURUNYA

Owner http://dinamikagurusd.co.id Kepala SD Negeri Mojo 03 Cluwak Pati Jateng

http://dinamikagurusd.co.id

Jujur saja,kepantasanku mendapat sertifikasi pendidik kalau boleh menengok dulu sepertinya lebih tepat diterima ketika saya mengajar kelas yang jumlahnya satu kelas sampai 40 ssmpai 50 anak.Bukan saat ini yang menurutku tidak sebanding dengan jumlah murid sekarang yang terasa segelintir saja kurang dari 20 bahkan di sekolah lain kurang dari sepuluh masih banyak dijumpai di pelbagai tempat.Masih ingat dalam benak saya ketika tahun 2006 satu kecamatan di wilayah saya hanya satu orang saja yang murni lulus portofolio dua personal mengulang di LPMP.Sejak saat itu berbondong-bondong para guru PNS kuliah non reguler jarak jauh mengejar seniiornya yang seakan tidak percaya,mengapa kuliah mending untuk usaha lain atau mengurus anaknya kuliah.Bancakan para dosen menambah penghasilan membuka kuliah jarak jauh makin ramai.
Pasar seminar,diklat,ataupun pelatihan bak jamur ada dimana-mana, tempat hanya mengejar point tambahan nilai belaka tanpa ada ilmu maupun kepraktisan mengajar yang masuk.Kasihan sekali senior saya dulu, begitu sergur diluncurkan dia sudah pensiun duluan.Asal mulanya sergur adalah berbasis sarjana strata satu namun dalam perkembangannya lama pengabdian direkomendasikan.Banyak yang belum sarjana,mestinya batas mendapat seegur cukup 4 tahun saja karena penerimaan yang belum sarjana wajib digunakan untuk kuliah meningkatkan kompetensinya.

Harusnya Lembaga pnjamin mutu pendidikan menagih ijasah kesarjanaannya.Jika belum bisa menunjukkan ijasah selama 4 tahun,status srgurnya diputus.Namun dalam kenyataan guru yang berertifikat pendidik belum sarjana enggan dan kurang rela mengindahkan hal ini.Setidaknya dengan bertambahnya penghasilan bisa dengan longgar membiayai sendiri kuliah atas kepemlikan sarjana pendidik profesional.Jadi secara pesonal meningkat kwalitasnya secara komando pemerintah juga diuntungkan dengan peningkatan SDM para gurunya.

Motif hanya mengejar sertifikat sebanyak-banyaknya telah membius di benak guru demi sebuah sertifikasi.Aneh,dulu saya begitu bertenaga bersemangat mengajar di kelas yang gembira ramai dengan segala dinamikanya anak SD di kelas yang jumlahnya rata-rata besar minimal 40 anak tiap tahunnya di dekade 80 an sampai 90 an.Ditambah sore hari mengajar Pramuka,UKS,les,bahkan membantu di desa menuntaskan B3B dalam kejar paket A.Jadi pagi mengajar anaknya siang sampai sore mengajar orang tuanya.Rasa-rasanya segar kuat berwibawa sebagai bangga guru yang mengajar fungsi guru kelas yang sangat ideal sesuai jumlah jasa kesulitan beban murid yang jumlahnya banyak.Kini saya merasa malu dengan apa yang saya terima sebab jasa tenaga dan fikiran saya tidak sepadan dengan jumlah murid sedikit yang saya hadapi.Rasa-rasanya kegigihan saat ini begitu turun seakan sertifikasi bagiku hanya sebuah belas kasihan ataupun hadiah juga penyebutan kurang sedap kepada diriku sebagai jiwa pendidik.Saya merasa tidak pas dengan apa yang saya terima sebagai guru yang bersertifikasi,Rasanya ingin sebagian dari uang sertifikasi saya berikan kepada yang jauh lebih tepat kepada honorer atau sukarelawan guru barangkali mereka yang ideal pantas mendapatkannya yang jauh lebih besar,berat tantangan medan dan kekurangannya di wilayah yang sulit  terjangkau fasilitas pendidikan.

Ukuran dan parameter uji kompetensi guru secara aktual saat ini bagiku juga kurang setuju belum menggambarkan korelasi hubungan realita di lapangan yang sebenarnya.Kemarin saya merasa terharu dengan pengakuan seorang guru di daerah terluar yang jujur mengaku mendapat nilai sangat rendah di bawah 20 UKG. Namun dia jujur merasa gaptek menerima adanya.begini cuplikannya "Guru itu hanya tersenyum menyembunyikan kesedihannya setelah mengetahui nilai UKG nya ternyata dibawah 20.Kekurang pahaman dia menggunakan teknologi komputer mungkin salah satu penyebabnya...Menjadi guru di pulau terluar yang terlambat mendapatkan fasilitas komputer dan internet bisa saja dijadikan alasan untuk membela diri...Tapi ibu guru ini tidak membela diri..Dia hanya berucap:"Biarlah murid-murid saya yang menilai kompetensi saya sebagai guru."...Pagi ini saya bersama teman"mantan murid"nya yang hampir semua bergelar Doktor sepakat mengirim pesan :"Bu tetaplah tersenyum dan sebagai sumber inspirasi ...sesungguhnya kamilah yang menjadi bukti betapa hebatnya ibu dalam mendidik kami,kehebatan ibu tidak tertukar oleh uji kompetensi"#insoirina teacher.diambil dari status @Ratna Widayat 

Ada beberapa kasus di sekolah saat ini yang berhubungan dengan operator.Saking jengkelnya sang operator bikin kesalahan sedikit sehingga ada teman bahkan kepala sekolah tidak dapat cair serifikasi gurunya gara-gara guru yang bersangkutan tidak memberi insentif amal uang lelah atau apalah.Barangkali ada guru PNS yang masih gaptek bikin email,entri ePUPNS pun sebagian masih tidak bisa sok pintar komputer salah memasukkan kode jenis serifikasinya di Dapodik hanya bisa memerintah saja kepada operator dan guru honorer yang seakan dijadikan pesuruh guru yang kuat mengandalkan status PNSnya saja.Sebenarnya pengadaan guru itu tetap jika siklus pensiun diantisipasi dngan pengganti rekrutmen sarjana akademik reguler sarjana dari perguruan tinggi.Lebih baik mengangkat guru langsung dari Fakultas pendidikan langsung dari pada memberi sertifikasi yang salah sasaran.Sehingga dengan demikian kekurangan guru bisa diurai.

Power guru sekarang juga masih rendah dalam menilai keadaan.Biarlah ..yang penting aku mengajar murid mau pintar ataupun tidak toh itu bukan anak saya semisal begitu dalam menyelamatkan posisinya dalam mengajar asal tidak saya mulus bekerja tidak melanggar aturan juga tidak mengasari anak didik.Ini saya cuplik dari sebuah status:"Guru takut kena ancaman HAM, tugas terpaksa dijalankan setengah hati.Murid dibiarkan ngelunjak, mau marah sama murid takut nggak bisa tahan emosi, lalu bisa berurusan sama hukum, nasib guru tidak diperhatikan dan belum terlindungi.
Kesejahteraan guru yang rendah menghancurkan martabat dan wibawa guru.
Inilah Negara tanpa leadership, negara bunuh-diri."

Disisi gebyar sertifikasi sekarang melahirkan banyak guru yang konsumtif,naik haji,beravanza mengubah gaya hidupnya dengan memiliki segala fasilitas elektronik,motor,mobil.Disisi lain gurupun dituntut kompetensi kwalitas mengajarnya yang sebagian arah hasil tunjangan  sertifikasinya ada yang merefleksikan tidak sinkron dalam peningkatan mutu mengajarnya.Maka biarlah murid yang paling dekat secara moral dengan guru yang bisa menilai semua inspirasi gurunya.Pemerintah hanya bisa menilai secara sistem dengan pelbagai kelebihan dan kekurangannya.Faktor budaya dan subyektifitas pendidikan yang lain menentukan juga arah kwalitas pendidikan ini, hendaknya juga harus dinilai oleh siapapun yang peduli dengan pendidikan.Murid akan jujur menilai merekam jelas semua kompetensi guru dalam metode,cara,kreasi,inovasi guru dalam penyaji mutu mengajarnya.Sebenarnya kita tidak kekurangan guru,hanya persebaran kerataan posisi guru yang jauh tegas diatur daya ketertarikan dan betah tinggal lama.Lebih baik memberi pengganti guru yang mau tugas didaerah terpencil dari pada memberi sertifikasi yang salah sasaran.Jauh lebih berdaya guna menangkat guru di daerah banyak muridnya dari pada menempatkan guru yang rendah kecil jumlah muridnya.