Wednesday, November 25, 2015

Jumlah Lapangan Olah Raga SD di Indonesia Sangat Sedikit dan Kondisinya Memprihatinkan

Owner http://dinamikagurusd.co.id Kepala SD Negeri Mojo 03 Dinas Pendidikan Kecamatan Cluwak Kabupaten Pati Propinsi Jawa Tengah di depan SMA N 3 Pati
oleh : Kalim Nuryati
http://dinamikagurusd.co.id
Sekolah yang punya lapangan akan berpengaruh besar terhadap rasa bermain dan berlomba bisa menarik minat anak bersekolah disitu.Saya prihatin sekolah yang saya tempati kinipun sejak berdiri tidak punya lapangan olah raga.Dalam perkembangan zaman,lahan untuk olah raga di sekolah terdesak dengan bangunan besar yang berorientasi bisnis dan keuntungan ekonomi.Dibanding SMP dan SMA di SD yang jumlahnya di Indonesia sangat banyak pengadaan lapangan olah raga jarang bertambah cenderung malah menurun bahkan hilang untuk peruntukan yang tidak berorientasi keolahragaan anak-anak.Perbandingan rata-rata SD yang punya lahan olah raga dengan yang tidak punya olah raga perbedaannya sangatlah lumayan jauh kurangnya yang tidak punya lapangan olah raga .Seperti di kecamatan Cluwak Kabupaten Pati wilayah dinas aku bertugas 1: 28 sungguh memprihatinkan sekali !bagaimana kita bisa berprestasi , selebihnya ada tapi punya desa yang  agak jauh dari sekolah itu saja hanya segelintir saja.

Berbanding SD yang mempunyai lapangan tersendiri adalah kebanggaan tersendiri dalam mengembangkan kesehatan bersosial bermain yang menyenangkan dalam berolahraga apalagi dalam meraih prestasi.Sisa-sisa lulusan Sekolah Guru Olah raga yang menurut pandangan saya makin menua dan habis serta persimpangan jurusan keolahragaan di perguruan tinggi belum diangkat PNS menjadikan kwalitas olah raga di SD kurang maksimal. Dengan sebagian persamaan hak seseorang menjadi kepala sekolah baik guru kelas naupun mata pelajaran sedikit bannyak kita kehilangan seorang ahli olah-raga dalam meningkattumbuhkan prestasi olah raga bakat - bakat terpendam anak-anak ketika di SD.

Persaingan antara SD dan MI serta latar belakang budaya masyarakat penghargaan terhadap manfaat lapangan sampai kini masih rendah.Pengamatan saya pernah melihat anak-anak berbondong ke Desa lain atau Sekolah lain bergabung ikut berolah raga memakan waktu dan konsentrasi mengajar yang tidak ideal berpraktek teknik tentang menu olah raga.Dalam menghadapi O2SN kalau kita jujur dari tahun ke tahun di desa ataupun daerah tidak berdaya karena minimnya fasilitas.

Olahraga secara umum telah menjawab kemodernan dalam berfasilitas dan penanganan secara profesional.Tidak sedikit biaya yang dikeluarkan seseorang dalam ikut klub untuk berprestasi anak-anak desa tanpa daya tidak bisa mencapainya.Seolah guru olah raga tidak berdaya dalam membina anak sampai ke jenjang prestasi.Sekolah hanya sebagai data dan posisi keberadaan anak berprestasi,pengakuan posisi anak berprestasi tanpa campur tangan guru olah raga langsung.Dibutuhkan tenaga lain dalam menyumbang keberadaan prestasi ini guru olah raga setempat masih rata-rata sedikit kontribusinya.Sering saya tanya bagaimana mereka mempersiapkan anak ikut lomba kayaknya hanya sekedar motivasi dan pemantapan saja secara teknik langsung peran menjurus prestasi sangat kecil.Adalah sangat kasihan depan sekolah yang diperuntukkan untuk upacara dipaving yang keterbatasan tempat dijadikan untuk olahraga cidera karena alas halaman terbuat dari semen yang tidak layak untuk olahraga.

Bahkan masih ada sejumlah sekolah yang tak memiliki halaman upacara maupun arena bermain anak didik. Walaupun demikian, semangat untuk melaksanakan upacara bendara tak akan pernah surut.  Dengan kondisi sempit, semangat kebangsaan terus ditingkatkan. Apalagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mengeluarkan Peraturan Nomor 21/2015 tentang Budi Pekerti yang isinya mengenai wawasan kebangsaan.Sulit menerapkan Peraturan Kemendikbud tersebut. Sebab, halaman yang ada di sekolahnya tidak cukup untuk melaksanakan upacara bendera. Apalagi bila diikuti semua murid yang ada. Kalau mau upacara, hanya beberapa kelas saja yang bisa mengikutinya.