Thursday, December 3, 2015

GURU MENGAMBIL JALAN PINTAS DALAM MENGAJAR DENGAN TIDAK MELAKUKAN PERSIAPAN ADALAH DOSA BESAR

Pengantar 
Kepala SD Negeri Mojo 03 Dinas Pendidikan Kecamatan Cluwak Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah
Dalam setiap penyelenggaraan pendidikan pelatihan guru sering saya jumpai dari awal komentar biarlah yang muda-muda saja karena masa depan mereka cukup panjang saya sudah tua.Keterbatasan menggunakan media elektronik komputer serta dunia online juga sering menjadi kendala ketidakikutannya.Sebagian juga merasa berprinsip siapa yang dulu pasti bisa itu hanya penularan saja.Dibalik kesibukan dinas dan tugas sebagian yang lain juga asal ada file dan cd nya nanti dipelajari sendiri lama-lama juga bisa.Ada yang hitung-hitung waktu,jarak dan peruntukannya sebagai pertimbangan ikut.Bahkan ada yang berdduga itu hanya menghabiskan anggaran saja dan seterusnya.Ada yang merasa kasihan sekali jika sering meninggalkan mengajar anak menjadi tertinggal akademiknya.Ada yang beranggapan lumayan bisa nambah gizi gratis selama diklat ditambah mendapat bonus keilmuan.Bertemu teman lama sebagai reuni dan curhat keluarga dan perkembangan dinamika pendidikan lainnya.Besaran biaya diklat juga menjadi pertimbangan bagi yang lumayan guru pintar yang mengandalkan cukup mengunduh dari mbah Google saja sudah cukup.Bahkan sering kujumpai diklat yang jadwalnya dipadatkan karena sesuatu hal berbarengan dengan acara penting keguruan atau peringatan hari besar lainnya.
Saya menjadi terkesan dengan pernyataan tutor saya berikut ini yang bisa dijadikan guru itu introspeksi serta saya terinspirasi dengan pakar pendidikan dunia yang kupilih berikut ini,
"Menjadi seorang guru harus mau belajar. Guru yang malas belajar dan enggan meningkatkan ketrampilan karena merasa paling pandai dan paling tahu termasuk dosa besar yang dilakukan oleh guru."
Subiyantoro juga menyebutkan, perangkat yang harus disediakan guru seperti RPP bukan hanya sebagai dokumen pelengkap administrasi, namun juga digunakan sebagai dasar pelaksanaan dan alat evaluasi pembelajaran.
"Dosa besar lainnya, guru mengambil jalan pintas dalam mengajar dengan tidak melakukan persiapan," lanjutnya
Demikian dikatakan Kepala Bidang Fasilitasi Peningkatan Mutu Pendidik Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Jawa Tengah Dr. Subiyantoro, mengutip teori Paulo Freire, di hadapan setiap peserta diklat yang diselenggarakannya.

Paulo Freire

Freire menggunakan istilah yang unik yakni "Guru yang Murid" (teacher-pupil) dan 'Murid yang Guru" (Pupil-Teacher) yang pada dasarnya sekedar menegaskan baik guru maupun murid memiliki pengetahuan,penghayatan dan pengalamannya sendiri-sendiri terhadap obyek realitas yang mereka pelajari sehingga bisa saja suatu saat sang murid menyajikan pengetahuan,penghayatan dan pengalamannya tersebut sebagai suatu 'insight' bagi sang guru seperti yang secara klasik menjadi tugas guru selama ini.

In terms of pedagogy, Freire is best known for his attack on what he called the "banking" concept of education, in which the student was viewed as an empty account to be filled by the teacher. He notes that "it transforms students into receiving objects. It attempts to control thinking and action, leads men and women to adjust to the world, and inhibits their creative power" (Freire, 1970, p. 77)

According to Freire, the system of dominant social relations creates a 'culture of silence' that instills a negative, silenced and suppressed self-image into the oppressed. The learner must develop a critical consciousness in order to recognize that this culture of silence is created to oppress.[11] A culture of silence can also cause the "dominated individuals [to] lose the means by which to critically respond to the culture that is forced on them by a dominant culture."[12]
Social domination of race and class are interlaced into the conventional education system, through which the "culture of silence" eliminates the "paths of thought that lead to a language of critique

Sejarah Paulo Freire
Paulo Freire adalah seorang pendidik di negara Brazilia yang terkenal mengenai kritikannya terhadap dampak yang ditimbulkan oleh pendidikan sekolah terhadap masyarakat luas. Freire dilahirkan dalam keluarga kelas menengah di Recife, Brasil, pada tanggal 19 Septerber 1921. Namun ia mengalami langsung kemiskinan dan kelaparan pada masa Depresi Besar 1929, suatu pengalaman yang membentuk keprihatinannya terhadap kaum miskin dan ikut membangun pandangan dunia pendidikannya yang khas dan menjadikannya seorang tokoh pendidikan Brasil dan teoretikus pendidikan yang berpengaruh di dunia. Dan beliau meninggal di Sao Paulo, Brasil 2 Mei 1997 karena serangan jantung.
Freire mulai belajar di Universitas Recife pada 1943, sebagai seorang mahasiswa hukum, yang juga belajar filsafat dan psikologi bahasa. Meskipun ia lulus sebagai ahli hukum, ia tidak pernah benar-benar berpraktik dalam bidang tersebut. Namun, ia bekerja sebagai seorang guru di sekolah-sekolah menengah, mengajar bahasa Portugis. Pada 1944, ia menikah dengan Elza Maia Costa de Oliveira, seorang rekan gurunya. Mereka berdua bekerja bersama selama hidupnya sementara istrinya juga membesarkan kelima anak mereka.
Penghargaan yang pernah didapatkan oleh Freire adalah: penghargaan Raja Baudouin (Belgia) untuk Pembangunan Internasional; penghargaan bagi Pendidik Kristen Terkemuka bersama Elza, istrinya; dan penghargaan UNESCO 1986 bagi Pendidikan untuk Perdamaian.
Pemikiran Paulo Freire
Menurut Freire, pendidikan dapat dirancang untuk percaya pada kemampuan diri pribadi (self affirmation) yang pada akhirnya menghasilkan kemerdekaan diri. Ia terkenal dengan gagasannya tentang pendidikan penyadaran dan pendidikan dengan pengajuan masalah, sebuah gagasan yang berasal dari kritikannya terhadap dampak yang ditimbulkan oleh pendidikan sekolah terhadap masyarakat luas.
Menurut Freire, sebagian besar warga masyarakat masih bersikap masa bodoh terhadap perkembangan lingkungannya. Kehidupan mereka masih dalam keadaan tertekan oleh tingkat sosial-ekonomi yang rendah. Kehadiran para peserta didik dan lulusan pendidikan sekolah di masyarakat menjadi faktor yang menyebabkan makin timbulnya masyarakat yang tertekan ini. Dimana, seolah-olah terjadi pola interaksi antara dua kelompok manusia di masyarakat, yaitu kelompok penekan dan kelompok yang merasa tertekan.
Freire berasumsi, sepanjang dua kelompok tersebut masih tetap ada, maka mereka tidak mungkin dapat berkembang secara demokratis, kreatif, dan dinamis. Karena, kelompok penekan mungkin tidak akan mampu untuk meningkatkan kehidupan masyarakat apabila sebagian besar warganya masih merasa tertekan. Pihak penekan juga akan mengalami kesulitan dalam menyadarkan masyarakat yang merasa tertekan untuk dapat mengenali masalah yang dihadapi, berpikir kritis, dan memecahkan masalah yang timbul dalam realitas kehidupan mereka. Sebaliknya, pada kelompok yang merasa tertekan, seakan-akan telah terbiasa berada dalam  “penjara” kehidupan yang statis dan masa bodoh. Mereka tidak mampu untuk mengenali dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Suasana kehidupan masyarakat yang merasa tertekan, yang pada umumnya menderita kemiskinan dan keterlantaran pendidikan, serta berada dalam “kebudayaan bisu”.
Dalam Sudjana (1991) konsep mengenai penyadaran atau conscientization digunakan untuk membangkitkan kesadaran diri warga masyarakat terhadap lingkungannya. Kesadaran ini ditumbuhkan melalui gerakan pendidikan pembebasan. Dimana dalam gerakan pendidikan ini, warga masyarakat sebagai peserta didik dipandang sebagai subjek yang aktif dan berpotensi, bukan sebuah objek yang hanya sebagai  penerima sesuatu secara pasif. Pendidikan pembebasan dilakukan dengan menghindarkan semua faktor yang dapat menimbulkan adanya perbedaan antara pihak penekan dengan pihak yang merasa tertekan.
Sedangkan untuk gagasan pendidikan dengan pengajuan masalah atau problem possing education, adalah sebuah gagasan yang dianjurkan dalam rangka mengatasi gaya belajar yang Freire anggap sebagai pendidikan “gaya bank”.
Kritikan Paulo Freire Terhadap Pendidikan “Gaya Bank”
Dalam sistem pendidikan yang diterapkan di Brazilia pada masa Freire, anak didik tidak dilihat sebagai yang dinamis dan punya kreasi tetapi dilihat sebagai benda yang seperti wadah untuk menampung sejumlah rumusan/dalil pengetahuan. Semakin banyak isi yang dimasukkan oleh gurunya dalam “wadah” itu, maka semakin baiklah gurunya. Karena itu semakin patuh wadah itu semakin baiklah ia. Jadi, murid/nara didik hanya menghafal seluruh yang diceritrakan oleh gurunya tanpa mengerti. Nara didik adalah obyek dan bukan subyek. Pendidikan yang demikian itulah yang disebut oleh Freire sebagai pendidikan “gaya bank”. Disebut pendidikan gaya bank sebab dalam proses belajar mengajar guru tidak memberikan pengertian kepada nara didik, tetapi memindahkan sejumlah dalil atau rumusan kepada siswa untuk disimpan yang kemudian akan dikeluarkan dalam bentuk yang sama jika diperlukan. Nara didik adalah pengumpul dan penyimpan sejumlah pengetahuan, tetapi pada akhirnya nara didik itu sendiri yang “disimpan” sebab miskinnya daya cipta.
Dalam karyanya “Pedagogia do oprimido” (1970); serta buku yang membuatnya termashur, “Pedagogy of the Oppressed”, yang terbit tahun 1972, Freire membongkar watak pasif dari praktek pendidikan tradisional yang melanda dunia pendidikan. Dia menganggap bahwa pendidikan pasif sebagaimana dipraktekan pada umumnya pada dasarnya adalah melanggengkan sistim relasi “penindasan”. Freire mengejek sistem dan praktek pendidikan yang menindas tersebut, yang disebutnya sebagai pendidikan “gaya bank” dimana guru bertindak sebagai penabung yang menabung informasi sementara murid dijejali informasi untuk disimpan. Freire menyusun daftar antagonisme pendidikan “gaya bank” itu sebagai berikut: (1) guru mengajar, murid belajar; (2) guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa; (3) guru berpikir, murid dipikirkan; (4) guru bicara, murid mendengarkan; (5) guru mengatur, murid diatur; (6) guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menuruti; (7) guru bertindak, murid membayangkan bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan gurunya; (8) guru memilih apa yang akan diajarkan, murid menyesuaikan diri; (9) guru mengacaukan wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang profesionalismenya, dan mempertentangkannya dengan kebebasan murid- murid; (10) guru adalah subyek proses belajar, murid obyeknya.
Karena itu pendidikan gaya bank menguntungkan kaum penindas dalam melestarikan penindasan terhadap sesamanya manusia. Pendidikan “gaya bank” itu ditolak dengan tegas oleh Paulo Freire. Penolakannya itu lahir dari pemahamannya tentang manusia. Ia menolak pandangan yang melihat manusia sebagai mahluk pasif yang tidak perlu membuat pilihan-pilihan atas tanggung jawab pribadi mengenai pendidikannya sendiri. Bagi Freire manusia adalah mahluk yang berelasi dengan Tuhan, sesama dan alam. Dalam relasi dengan alam, manusia tidak hanya berada di dunia tetapi juga bersama dengan dunia. Kesadaran akan kebersamaan dengan dunia menyebabkan manusia berhubungan secara kritis dengan dunia. Manusia tidak hanya bereaksi secara refleks seperti binatang, tetapi memilih, menguji, mengkaji dan mengujinya lagi sebelum melakukan tindakan. Tuhan memberikan kemampuan bagi manusia untuk memilih secara reflektif dan bebas. Dalam relasi seperti itu, manusia berkembang menjadi suatu pribadi yang lahir dari dirinya sendiri. Bertolak dari pemahaman yang demikian itu, maka ia menawarkan sistem pendidikan alternatif sebagai pengganti pendidikan “gaya bank” yang ditolaknya. Sistem pendidikan alternatif yang ditawarkan Freire disebut pendidikan “hadap-masalah”.
Pendidikan Hadap Masalah
Pendidikan “hadap-masalah” sebagai pendidikan alternatif yang ditawarkan oleh Freire lahir dari konsepsinya tentang manusia. Manusia sendirilah yang dijadikan sebagai titik tolak dalam pendidikan hadap-masalah. Manusia tidak mengada secara terpisah dari dunia dan realitasnya, tetapi ia berada dalam dunia dan bersama-sama dengan realitas dunia. Realitas itulah yang harus diperhadapkan pada nara didik supaya ada kesadaran akan realitas itu. Konsep pedagogis yang demikian didasarkan pada pemahaman bahwa manusia mempunyai potensi untuk berkreasi dalam realitas dan untuk membebaskan diri dari penindasan budaya, ekonomi dan politik. Kesadaran tumbuh dari pergumulan atas realitas yang dihadapi dan diharapkan akan menghasilkan suatu tingkah laku kritis dalam diri nara didik.
Freire membagi empat tingkatan kesadaran manusia. Yang pertama adalah kesadaran intransitif , dimana seseorang hanya terikat pada kebutuhan jasmani, tidak sadar akan sejarah dan tenggelam dalam masa kini yang menindas.
Tingkat kesadaran kedua yakni kesadaran semi intransitif atau kesadaran magis. Kesadaran ini terjadi dalam masyarakat berbudaya bisu, dimana masyarakatnya tertutup. Ciri kesadaran ini adalah fatalistis. Hidup berarti hidup di bawah kekuasaan orang lain atau hidup dalam ketergantungan.
Tingkat ketiga adalah kesadaran naif. Pada tingkatan ini sudah ada kemampuan untuk mempertanyakan dan mengenali realitas, tetapi masih ditandai dengan sikap yang primitif dan naif, seperti: mengindentifikasikan diri dengan elite, kembali ke masa lampau, mau menerima penjelasan yang sudah jadi, sikap emosi kuat, banyak berpolemik dan berdebat tetapi bukan dialog.
Sedangkan tingkat kesadaran yang terakhir yakni kesadaran kritis transitif. Kesadaran kritis transitif ditandai dengan kedalaman menafsirkan masalah-masalah, percaya diri dalam berdiskusi, mampu menerima dan menolak. Pembicaraan bersifat dialog. Pada tingkat ini orang mampu merefleksi dan melihat hubungan sebab akibat.
Bagi Freire pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang menumbuhkan kesadaran kritis transitif. Memang ia tidak bermaksud bahwa seseorang langsung mencapai tingkatan kesadaran tertinggi itu, tetapi belajar adalah proses bergerak dari kesadaran nara didik pada masa kini ke tingkatan kesadaran yang di atasnya.
Dalam proses belajar yang demikian kontradiksi guru murid (perbedaan guru sebagai yang menjadi sumber segala pengetahuan dengan murid yang menjadi orang yang tidak tahu apa-apa) tidak ada. Nara didik tidak dilihat dan ditempatkan sebagai obyek yang harus diajar dan menerima. Demikian pula sebaliknya guru tidak berfungsi sebagai pengajar. Guru dan murid adalah sama-sama belajar dari masalah yang dihadapi. Guru dan nara didik bersama-sama sebagai subyek dalam memecahkan permasalahan. Guru bertindak dan berfungsi sebagai koordinator yang memperlancar percakapan dialogis. Ia adalah teman dalam memecahkan permasalahan. Sementara itu, nara didik adalah partisipan aktif dalam dialog tersebut. Materi dalam proses pendidikan yang demikian tidak diambil dari sejumlah rumusan baku atau dalil dalam buku paket tetapi sejumlah permasalahan. Permasalahan itulah yang menjadi topik dalam diskusi dialogis itu yang diangkat dari kenyataan hidup yang dialami oleh nara didik dalam konteksnya sehari-hari, misalnya dalam pemberantasan buta huruf.
Pertama-tama peserta didik dan guru secara bersama-sama menemukan dan menyerap tema-tema kunci yang menjadi situasi batas (permasalahan) nara didik. Tema-tema kunci tersebut kemudian didiskusikan dengan memperhatikan berbagai kaitan dan dampaknya. Dengan proses demikian nara didik mendalami situasinya dan mengucapkannya dalam bahasanya sendiri. Inilah yang disebut oleh Freire menamai dunia dengan bahasa sendiri. Kata-kata sebagai hasil penamaan sendiri itu kemudian dieja dan ditulis. Proses demikian semakin diperbanyak sehingga nara didik dapat merangkai kata-kata dari hasil penamaannya sendiri. 
     Pendidikan Pembebasan
Beberapa konsep Freire mengenai pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan adalah, pendidikan ditujukan pada kaum tertindas dengan tidak berupaya menempatkan kaum tertindas dan penindas pada dua kutub berseberangan dimana, pendidikan bukan dilaksanakan atas kemurah-hatian  palsu kaum penindas untuk mempertahankan status quo melalui penciptaan dan legitimasi kesenjangan. Pendidikan kaum tertindas lebih diarahkan pada pembebasan perasaan/idealisme melalui persinggungannya dengan keadaan nyata dan praksis. Penyadaran atas kemanusiaan secara utuh bukan diperoleh dari kaum penindas, melainkan dari diri sendiri. Dari sini sang subjek-didik membebaskan  dirinya, bukan untuk kemudian menjelma sebagai kaum penindas baru, melainkan ikut membebaskan kaum penindas itu sendiri. Pendidikan ini bukan bertujuan untuk menjadikan kaum tertindas menjadi lebih terpelajar, tetapi untuk membebaskan dan mencapai kesejajaran pembagian pengetahuan.
Dalam Sudjana (1991), Freire menegaskan bahwa pendidikan yang tidak mampu membangkitkan diri pada peserta didik dan masyarakat adalah tidak manusiawi dan karena itu, tidak usah diberi hak hidup. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa pembangunan tidak akan terwujud melalui pendidikan yang tidak membangkitkan kesadaran peserta didik dan masyarakat terhadap dunia dan lingkungannya.
Melalui pendidikan pembebasan, penduduk yang tuna aksara telah dapat diserahkan pada kesadaran baru tentang dirinya. Mereka dirangsang mampu menenali keadaan lingkungannya secara kritis dan kemudian mampu menentukan langkah-langkah yang akan ditempuh untuk mengubah lingkungannya.
Bila pembebasan sudah tercapai, pendidikan Freire adalah suatu kampanye dialogis sebagai suatu usaha pemanusiaan secara terus-menerus. Pendidikan bukan menuntut ilmu, tetapi bertukar pikiran dan saling mendapatkan ilmu (kemanusiaan) yang merupakan hak bagi semua orang tanpa kecuali. Kesadaran dan kebersamaan adalah kata-kata kunci dari pendidikan yang membebaskan dan kemudian memanusiakan.  
Hubungan antar Guru dan Murid yang Baik 

Nara didik tidak dilihat dan ditempatkan sebagai obyek yang harus diajar dan menerima. Demikian pula sebaliknya guru tidak berfungsi sebagai pengajar. Guru dan murid adalah sama-sama belajar dari masalah yang dihadapi. Guru dan nara didik bersama-sama sebagai subyek dalam memecahkan permasalahan. Guru bertindak dan berfungsi sebagai koordinator yang memperlancar percakapan dialogis. Ia adalah teman dalam memecahkan permasalahan. Sementara itu, nara didik adalah partisipan aktif dalam dialog tersebut. 
Guru menjadi rekan murid yang melibatkan diri dan merangsang daya pemikiran kritis para murid. Dengan demikian kedua belah pihak bersama-sama mengembangkan kemampuan untuk mengerti secara kritis dirinya sendiri dan dunia tempat mereka berada. Pengetahuan adalah keterlibatan. 

Menurut dia murid dipandang sebagai obyek yang bodoh tidak berpengetahuan dan digarap oleh guru yang memposisikan dirinya sebagai subyek aktif yang menjadi panutan .Dalam konteks sosiopolitis,relasi pendidikan seperti itu,sangat mirip dengan relasi penindasan antara penguasa kolonial dengan bangsa yang dijajah ataupun penguasa bangsa sendiri yang otoriter dengan rakyatnya yang miskin

Fraire menghubungkan pendidikan dengan masalah sosiopolitik karena praktek pendidikan selalu memiliki implikasi sosial.Kebijakan dan Praktik Pendidikan dapat mengabadikan ketertutupan dan ketidakadilan atau membantu kita membangun kondisi-kondisi transformasi sosial.Ia juga menghargai pengetahuan yang dibawa oleh anak didiknya.

Sumber : 
- http://www.lpmpjateng.go.id/
Freire menggunakan suatu istilah yang unik, yakni “guru yang murid” (teacher-pupil) dan “murid yang guru” (pupil-teacher), yang pada dasarnya sekedar menegaskan bahwa baik guru maupun murid memiliki potensi pengetahuan, penghayatan dan pengalamannya sendiri-sendiri terhadap obyek realitas yang mereka pelajari, sehingga bisa saja pada suatu saat murid menyajikan pengetahuan, penghayatan, dan pengalamannya tersebut sebagai suatu “insight” bagi sang guru, seperti yang secara klasik menjadi tugas sang guru selama ini.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/muamalsyah/paulo-freire-pendidikan-untuk-pembebasan_550e10eb813311c02cbc61e7
Freire menggunakan suatu istilah yang unik, yakni “guru yang murid” (teacher-pupil) dan “murid yang guru” (pupil-teacher), yang pada dasarnya sekedar menegaskan bahwa baik guru maupun murid memiliki potensi pengetahuan, penghayatan dan pengalamannya sendiri-sendiri terhadap obyek realitas yang mereka pelajari, sehingga bisa saja pada suatu saat murid menyajikan pengetahuan, penghayatan, dan pengalamannya tersebut sebagai suatu “insight” bagi sang guru, seperti yang secara klasik menjadi tugas sang guru selama ini. William A. Smith, Conscientizacao, Tujuan Pendidikan Paulo Freire, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, November 2001.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/muamalsyah/paulo-freire-pendidikan-untuk-pembebasan_550e10eb813311c02cbc61e7
Freire menggunakan suatu istilah yang unik, yakni “guru yang murid” (teacher-pupil) dan “murid yang guru” (pupil-teacher), yang pada dasarnya sekedar menegaskan bahwa baik guru maupun murid memiliki potensi pengetahuan, penghayatan dan pengalamannya sendiri-sendiri terhadap obyek realitas yang mereka pelajari, sehingga bisa saja pada suatu saat murid menyajikan pengetahuan, penghayatan, dan pengalamannya tersebut sebagai suatu “insight” bagi sang guru, seperti yang secara klasik menjadi tugas sang guru selama ini. William A. Smith, Conscientizacao, Tujuan Pendidikan Paulo Freire, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, November 2001.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/muamalsyah/paulo-freire-pendidikan-untuk-pembebasan_550e10eb813311c02cbc61e7