Tuesday, August 2, 2016

Kesan Sebagai Insan Diklat Atau Sebagai Peserta Penggembira

Kepala SD Negeri Mojo 03 Dinas Pendidikan Cluwak Pati 59157 Jawa Tengah
https://www.dinamikagurusd.blogspot.com/

Saya sangat menghargai sekali jika pendidikan pelatihan keguruan diselenggarakan total di libur kenaikan sebagai ganti kesan masyarakat bahwasanya paradigma pendidik libur tetap dibayari.Banyak hal dan keuntungan di dapat jika sama-sama bekerja berjalan yang di kantor tidak sepi dan guru ada peningkatan kwalitas di sela-sela tanggung jawab 24 jam sebagai rasa pengakuan profesional.Adalah sangat bijak ini dilakukan karena tidak mengganggu waktu-waktu efektif di tengah-tengah kebutuhan program padat yang belum tergarap terselesaikan.
Dari mengamat maraknya diklat,bintek,seminar dan pelatihan saya merasa aneh melihat mereka.Baik secara sudut pandang keprofesian maupun waktu sampai hari ini rasa-rasanya seperti hanya berkelas mengantisipasi persamaan persepsi bahkan yang paling mencengangkan adalah alasan menghabiskan anggaran saja.Saya sendiri heran dan merasa malu kemarin dalam nilai Ujian Kompetensi Guru (UKG) ternyata seorang guru tidak tetap ternyata meraih nilai tertinggi se Indonesia.
Saya sebagai pemerhati dunia pendidikan pernah berkelakar tentang ketakutan manusia-manusia baru yang kurang efektif jika setelah dikirim entah itu sebagai peserta maupun pelaksana akan memilih sasaran yang kurang tepat.Berkali-kali saya mengikuti penataran sepertinya dalam hatiku berpikir ini sebuah kehati-hatian jika salah menafsir hanya bikin manusia kardus saja yang jika diendus itu artinya makan dan setelah pulang tidak tahu apa-apa apalagi ngaruh di lapangan.
Masih ingat di benak saya sampai-sampai pemerintah melarang keras penataran di hotel-hotel berbintang di tempat - tempat yang mewah yang tidak memberdayakan lembaga diklat sendiri resmi pemerintah kemarin sempat menjadi model trend dan gaya hidup baru di kalangan pendidik yang bagiku kurang mendidik sebagai penggerak jiwa pendidikan.
Kekawatiran yang sekedar mendapat numpang mejeng akan selalu menghantui bahwasanya penataranku ini sekelas mejeng doang kata orang Betawi.Begitu kugledah toh tidak ada bau keringat sedikitpun meski tujuan pelatihan tersebut beraura baru membentuk perubahan.Bahkan di ajang pelatihan kadang terselip tidak bisa ngempet mensuarakan hak-haknya saja sebagai status umum posisi kedinasan yang melenceng jauh dari pembicaraan maupun materi diskusi pelatihan.
Saya sendiri merasa berdosa jika mengingat waktu pergantian ke Kurikulum 13 yang sampai sekarang tidak kupakai yang jika dihitung satu saja aku merasa miris apalagi jika dihitung seluruh peserta dan pelaksana se Indonesia hanya membuang uang saja.
Pernah dalam perjalanan penataran saya ikut dan merasakan sendiri panitia memangkas jadwal bahkan menghentikan pelatihan dengan alasan berbenturan acara peringatan hari penting menurut alasan pimpinan dianggap sebagai pemadatan.Itupun dianggap hal yang menyenangkan kebanyakan peserta dalam kapasitas keprofesionalan,begitu aneh di zaman digital sebuah pertenuan rasa-rasanya semua bisa diringankan bahkan berkiblat mudah siselesaikan.
Makna di tempat diklat juga agak terkurangi selagi mengumpulkan peserta dari beragai daerah menjadi ajang curhat nasib yang berbeda beragam berdinamika jago kandang yang menyuarakan kegembiraan suksesi dunia masing-masing.Adalah hal yang wajar jika mereka membawa karakter asal yang jika ditumpahkan di ruang penataran menjadi aktor yang menarik apalagi menyentuh kesensitifan kesejahteraan.