Sunday, September 11, 2016

SPG SGO dan SGA Sebagai Saudara Kembar

@kalim nuryati on facebook and twitter
Jika menengok mengenang masa lalu barangkali nama kedua sekolah ini sudah hilang dari peredaran.Seiring perjalanannya sepertinya pengaruh besar luar biasa yang terasa hingga kini utamanya di dunia pendidikan Sekolah Dasar se Indonesia yang sudah dirintis para pendahulu kita masih bergema.Bisa dikata generasi itu tidak akan hilang dimakan zaman.Kekhawatiran itu menjadi kebanggaan ketika saya refleksikan seorang siswa penerus SPG,SGO,SGA lama yang ditempati kini sebagai siswa SMA pengaruh guru SPG,SGO,SGA lama yang masih aktif mengajar dalam hal pembentukkan sikap siswa mempunyai keunggulan terdepan,unik agak kuno namun menginspirasikan.Sisa sisa peninggalan sekolah berlabel PGRI masih digemari sebagai buah kepercayaan bahwa karakter guru berdiri tegak menyebarkan keilmuan yang menyertai selanjutnya.

Tanpa detail dasar hukum pendirian pemerintah waktu itu serta pergantiannya sampai saat ini,bagiku sisi-sisi serta sisa-sisa perlakuan pendidikan ketiganya ibarat saudara kembar secara umum tidak dapat dipisahkan satu paket.Saya  tidak melihat itu produk orde lama atau baru namun saya tetap yakin itu adalah rasa syukurku kepada guruku bahwasanya prihatin dengan keadaan degradasi moral karakter masa kini.Semoga norma nilai lama tidak dibuang disegarkan kembali sebagai revolusi mental yang menjadi garda terdepan wajah sekarang.Tanpa melihat skala politik kepentingan golongan tidak ada jeleknya jika kebangkitan kebangsaan dulu yang jaya di sekolah- sekolah cemerlang kembali.

SPG (Sekolah Pendidikan Guru )
SGO (Sekolah Pendidikan Olah Raga)
SGA / PGA (Sekolah Guru / Pendidikan Agama) 

Kukenal dulu begitu dekat lekat dengan nilai sikap jiwa calon guru yang benar-benar digugu dan ditiru.Tidak sebarang remaja ataupun seumur usia 16 sampai 19 tahunan saat itu yang dipersiapkan dididik karakter di depan kelas sebagai pengajar SD/MIyang mumpuni.Berangkat dari usia 16 tahun yang digembleng bakat minat dan karakternya menurutku sudah pantas sebagai bekal menuju calon guru sejati.Secara mental maupun keilmuan sudah dirasa cukup untuk mempraktekkan didaktik metodik yang digenjot tiap hari untuk menguasai betul segala visi misi jenjang anak SD/MI.Bagiku benar-benar tahu jiwa cara mendidik yang sesuai psikologis perkembangan anak pendidikan dasar yang menjadi dasar kuat pembentukan karakter berikutnya.

Ada banyak hal-hal yang dianggap dulu sikap kecil yang berkesan tentang bagaimana disiplin waktu ,tata tertib serta segala urusan yang mencerminkan nilai sikap guru muda yang unggul di SPG,SGO,SGA dulu begitu terasa hilang tipis merasa dicari kembali.Gurunya guru dulu saya anggap keras menerapkan nilai - nilai luhur yang harus dijaga agar di depan muridnya kelak tidak lembek dalam menanamkan disiplin siswanya nanti.Ada kesan marah namun mengandung nilai kasih sayang tinggi yang memang harus dijaga agar rasa khawatir nanti menghadapi mengajar bisa ciptakan suasana kelas terkendali.Pembiasaan disiplin bicara,pakaian,tugas,kepemimpinan,penampilan,seni budaya menghadapi amanah mengajar nanti tercermin di setiap kelas,sekolah,keluarga dan masyarakat tanpa disorot didekte dilatih ditempa tahu dengan sendirinya sebagai kesadaran.

Bentuk segi serta sisi - sisi sanksi pelanggaran yang dilakukan siswa SPG,SGO,SGA dulu mungkin masih relevan diterapkan sampai kini.Barangkali bagiku format semi militer namun tidak otoriter radikal agaknya sangat cocok,dikurangi tensi dipilih mana yang sesuai tidak memberatkan melukai jiwa anak perlu dikembangkan sebagai produk disiplin ala Indonesia yang berdasarkan Pancasila.Secara pribadi yang kebetulan saya adalah almamater SPG (1980-1983) masih ingat rambut tidak gondrong rapi tidak menyentuh telinga,tidak boleh melompat pagar,antri masuk kelas,masuk jam tujuh kurang seperempat kelas sudah bersih absen,senam,tidak lengkap seragam,buku harus disampuli,menulis janji 100 kalimat tidak mengulang kesalahan,membungkuk sedikit ketika guru lewat,tata krama unggah ungguh antara yang tua dan muda benar-benar terefleksi hingga kini.Bahkan anak saya yang kuliah di UNY (Universitas Negeri Yogjakarta) bercerita dan mengakui ada rasa beda antara dosen profesor doktor lulusan SPG sebelumnya bidikan karakternya begitu terkemuka,maaf barangkali saya mengambil pengakuan dari anak saya.